DOSEN : Hj.Inayah,SKM.,M.Kes
MATA KULIAH : PMM-A
SAKARIN DALAM BAHAN TAMBAHAN MAKANAN
DISUSUN OLEH :
Hendra Ruru
PO.71.3.221.13.1.020
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN AJARAN 2014/2015
PRODI DIII
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya-lah sehingga kita dapat menyelesaikan Makalah tentang Sorbitol dalam Bahan Tambahan Makanan ini dengan bai dan tepat pada waktunya.
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai pihak yang membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan dalam mengerjakan makalah ini.Oleh karena itu,kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini.
Walaupun sederhana keadaannya, namun diharapkan agar dapat memberi mamfaat bagi kita semua. Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang terjadi baik dalam bentuk penulisan kata-kata maupun kalimat yang kurang baku, maka dari itu saran dan kritik sangat kami harapkan demi kesempurnaannya makalah ini. Karena kami manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.
Demikianlah makalah yang kami yang susun ini semoga bermamfaat bagi kita semua, atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.
Makassar,17 November 2014
Penyusun
Hendra Ruru
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I
Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
D. Mamfaat 2
BAB II
PEMBAHASAN 3
A. Pengertian Bahan Tambahan Makanan 3
B. Jenis-Jenis Bahan Sakarin dalam BTM 3
C. Mekanisme Kerja Sakarin dalam BTM 3
D. Batas Maksimum Penggunaan Sakarin Dalam BTM 4
E. Proses Pembuatan Sakarin 4
F. Dampak Penggunaan Sakarin dalam BTM 5
BAB III
PENUTUP 6
A. Kesimpulan 6
B. Saran 6
DAFTAR PUSTAKA 7
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sakarin pertama kali ditemukan oleh Ira Remsen dan Constantin Fahlberg pada tahun 1879 (ulanira, 2009). Sakarin dengan rumus C7H5NO3S dan berat molekul 183,18 disintesis dari toluen biasanya tersedia sebagai garam natrium. Nama lain dari sakarin adalah 2,3 dihidro-3-oksobenzisulfonasol, benzosulfimida atau o-sulfobenzimida. Sedangkan nama dagangnya adalah glucide, garantose, saccarinol, saccarinose, sakarol, saxin, sykose, hermesetas (Cahyadi dalam Silalahi, 2010).
Sakarin merupakan salah satu zat pemanis buatan yang sering digunakan oleh produsen makanan dan minuman pada produk industri mereka Sakarin jauh lebih manis dibanding sukrosa, dengan perbandingan rasa manis kira-kira 400 kali lipat sukrosa. Namun sayangnya dalam konsentrasi sedang sampai tinggi bersifat meninggalkan aftertaste pahit yang disebabkan oleh kemurnian yang rendah dari proses sintesis. Untuk menghilangkan rasa ini sakarin dapat dicampurkan dengan siklamat dalam perbandingan 1:10 untuk siklamat (artikelbiboer, 2009). Sakarin tidak dapat dimetabolisme dalam tubuh manusia, sehingga tidak dapat menghasilkan energi atau kalori..
Sakarin merupakan pemanis alternatif untuk penderita diabetes melitus, karena sakarin tidak diserap lewat system pencernaan. Meskipun demikian, sakarin dapat mendorong sekresi insulin karena rasa manisnya, sehingga gula darah akan turun.
Sakarin mulai diteliti sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Ahli yang pertama kali menentang penggunaan sakarin adalah Harvey Wiley karenadianggap merugikan kesehatan. Menurut beliau, sakarin memang manis seperti gula pasir biasa, namun karena struktur kimianya menyerupai tar batubara. Sejaksaat itu, keamanan penggunaan sakarin terus diperdebatkan sampai sekarang.Adapun bahaya yang ditimbulkan sakarin adalah efek karsinogenik. Pada sebuah penelitian di tahun 1977, mencit percobaan mengalami kanker empedu setelahmengkonsumsi sakarin dalam jumlah besar. Penentuan efek serupa pada manusialebih sulit, karena sebagian besar produk makanan yang ada saat ini menggunakan beberapa pemanis buatan sekaligus. Penelitian oleh Weihrauch & Diehl (2004)menunjukkan bahwa konsumsi kombinasi pemanis buatan dalam jumlah besar(>1.6 gram/hari) meningkatkan risiko kanker empedu sebanyak hanya 1.3 kalilipat pada manusia
Sakarin adalah pemanis buatan yang memiliki struktur dasar sulfinida benzoat Karena strukturnya tidak sama dengan karbohidrat, sakarin tidak menghasilkan kalori. Sakarin jauh lebih manis dibanding sukrosa, dengan perbandingan rasa manis kira-kira 400 kali lipat sukrosa.
Pemanis buatan yang digunakan sebagai pengganti gula dalam makanan rendah kalori, dapat digolongkan menjadi dua macam. Pertama, yang sama sekali tidak menghasilkan kalori. Contohnya, sakarin dan siklamat. Kedua, yang masih menghasilkan kalori bila dikonsumsi, contohnya sarbitol dan aspartame. Sakarin mempunyai tingkat kemanisan 200-500 kali sukrosa (gula pasir). SDi Amerika Serikat, sakarin masih diizinkan, sedangkan siklamat telah dilarang karena disuga dapat menyebabkan timbulnya gangguan pada saluran kemih.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian Sakarin dan Bahan Tambahan Makanan (BTM) ?
2. Bagaimana sifat dari sakarin dalam Bahan Tambahan Makanan ?
3. Bagaimana Mekanisme Kerja Bahan Tambahan Makanan ?
4. Apa dampak/efek yang ditimbulkan sakarin dalam Bahan Tambahan Makanan ?
C. TUJUAN
1. Untuk Mengetahui apa itu Sakarin dan Bahan Tambahan Makanan
2. Untuk Memahami Proses Pembuatan Sakarin
3. Untuk Mengetahui Rumus dari Sakarin dalam Bahan Tambahan Makanan
D. MAMFAAT
Agar makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada penulis khususnya, maupun para pembaca. Manfaat tersebut baik dari segi pengetahuan dan pemahaman mendalam mengenai penambahan Bahan Tambahan Makanan (Sakarin).
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Bahan Tambahan Makanan
Aditif makanan atau bahan tambahan makanan adalah bahan yang ditambahkan dengan sengaja ke dalam makanan dalam jumlah kecil, dengan tujuan untuk memperbaiki penampakan, cita rasa, tekstur, flavor dan memperpanjang daya simpan. Selain itu dapat meningkatkan nilai gizi seperti protein, mineral dan vitamin. Penggunaan aditif makanan telah digunakan sejak zaman dahulu. Bahan aditif makanan ada dua, yaitu bahan aditif makanan alami dan buatan atau sintetis. Bahan tambahan makanan adalah bahan yang secara alamiah bukan merupakan bagian dari bahan makanan, tetapi terdapat dalam bahan makanan tersebut karena perlakuan saat pengolahan, penyimpanan atau pengemasan.
Bahan makanan yang diperlukan manusia ialah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Disaming itu ada zat tambahan dan obat-obatan yang dengan sengaja atau tidak disengaja ditambahkan kepada makanan. Kualitas makanan, kemurnian air dan udara merupakan bagian lingkungan kita. Untuk kesegaran kita diperlukan jumlah yang cukup, yang murni, dan bebas dari bahan penyakit. Di samping itu cukup mengandung bahan nutrisi, menyenangkan dari segi estetika, dan bebas dari bahan pencemaran.
Bila zat tambahan itu adalah dalam makanan, mungkin hal itu disengaja. Atau tidak disengaja. Misalnya jika sisa pestisida ada dalam makanan, jelas itu tidak disengaja. Yang tidak disengaja lainnya misalnya salmonella, stafilokokus, dan racun botulisme dalam makanan kaleng. Mungkin hal ini disebabkan cara yang tidak benar dalam penyediaan makanan. Biskuit beracun adalah contoh yang pernah terjadi yang telah menelan korban banyak. Sisa hormon dalam daging merupakan zat tambahan yang tidak sengaja, biarpun hormon itu digunakan untuk mempercepat pertumbuhan sebelum hewan dipotong. Tambahan lainnya ialah raksa dan logam lainnya.
Sakarin adalah zat pemanis buatan yang dibuat dari garam natrium dari asam sakarin berbentuk bubuk putih, tidak berbau dan sangat manis. Pemanis buatan ini mempunyai tingkat kemanisan 550 kali gula biasa (Suwahono2, 2009).
Sakarin adalah pemanis buatan yang memiliki struktur dasar sulfinida benzoat Karena strukturnya tidak sama dengan karbohidrat, sakarin tidak menghasilkan kalori. Sakarin jauh lebih manis dibanding sukrosa, dengan perbandingan rasa manis kira-kira 400 kali lipat sukrosa.
Pemanis buatan yang digunakan sebagai pengganti gula dalam makanan rendah kalori, dapat digolongkan menjadi dua macam. Pertama, yang sama sekali tidak menghasilkan kalori. Contohnya, sakarin dan siklamat. Kedua, yang masih menghasilkan kalori bila dikonsumsi, contohnya sarbitol dan aspartame. Sakarin mempunyai tingkat kemanisan 200-500 kali sukrosa (gula pasir). SDi Amerika Serikat, sakarin masih diizinkan, sedangkan siklamat telah dilarang karena disuga dapat menyebabkan timbulnya gangguan pada saluran kemih
B. Jenis-Jenis Bahan Tambahan Makanan (Sakarin)
Pada umumnya bahan tambahan makanan dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu sebagai berikut:
1. Bahan tambahan makanan yang ditambahkan dengan sengaja kedalam makanan, dengan mengetahui komposisi bahan tersebut dan maksud penambahan itu dapat mempertahankan kesegaran, cita rasa dan membantu pengolahan, sebagai contoh pengawet, pewarna dan pengeras.
2. Bahan tambahan makanan yang tidak sengaja ditambahkan, yaitu bahan yang tidak mempunyai fungsi dalam makanan tersebut, terdapat secara tidak sengaja, baik dalam jumlah sedikit atau cukup banyak akibat perlakuan selama proses produksi, pengolahan, dan pengemasan. Bahan ini dapat pula merupakan residu atau kontaminan dari bahan yang sengaja ditambahkan untuk tujuan produksi bahan mentah. Contoh bahan tambahan pangan dalam golongan ini adalah residu pestisida (termasuk insektisida, herbisida, fungisida, dan rodentisida), antibiotik, dan hidrokarbon aromatic polisiklis.
Menurut peraturan Menkes No. 235 tahun 1979, BTP dapat dikelompokan menjadi 14 yaitu : Antioksidan; Antikempal; Pengasam,penetral dan pendapar; Enzim; Pemanis buatan; Pemutih dan pematang; Penambah gizi; Pengawet; Pengemulsi, pemantap dan pengental; Peneras; Pewarna sintetis dan alami; Penyedap rasa da aroma, Sekuestran; dll. BTP dikelompokan berdasarkan tujuan penggunaanya di dalam pangan. Pengelompokkan BTP yang diizinkan digunakan pada makanan dapat digolongkan sebagai : Pewarna; Pemanis buatan; Pengawet; Antioksidan; Antikempal; Penyedap dan penguat rasa serta aroma; Pengatur keasaman; Pemutih dan pamatang tepung; Pengemulsi; Pemantap dan pengental; Pengeras, Sekuestran, Humektan, Enzim dan Penambah gizi.
C. Mekanisme Kerja Sakarin dalam Bahan Tambahan Makanan
Mekanisme Kerja Suatu senyawa untuk dapat digunakan sebagai pemanis,kecuali berasa manis, harus memenuhi beberapa kriteria tertentu, seperti
1. Larut dan stabil dalam kisaran pH yang luas
2. stabil pada kisaran suhu yang luas
3. Mempunyai rasa manis dan tidak mempunyai side atau after-taste
4. Murah, setidak-tidaknya tidak melebihi harga gula.
Senyawa yang mempunyai rasa manis strukturnya sangat beragam. Meskipun demikian, senyawa-senyawa tersebut mempunyai feature yang mirip, yaitu memiliki sistem donor/akseptor proton (sistem AHs/Bs) yang cocok dengan sistem reseptor (AHrBr) pada indera perasa manusia.
Sakarin, yang merupakan pemanis tertua, termasuk pemanis yang sangat penting perannya dan biasanya dijual dalam bentuk garam Na atau Ca. Tingkat kemanisan sakarin adalah 300 kali lebih manis daripada gula. Karena tidak mempunyai nilai kalori, sakarin sangat populer digunakan sebagai pemanis makanan diet, baik bagi penderita diabetes maupun untuk pasien lain dengan diet rendah kalori. Pada konsentrasi yang tinggi, sakarin mempunyai after-taste yang pahit. Meskipun hasil pengujian pada hewan percobaan menunjukkan kecenderungan bahwa sakarin menimbulkan efek karsinogenik, tetapi hal ini belum dapat dibuktikan pada manusia. Oleh karena itu, sakarin sampai saat ini masih diijinkan penggunaannya di hampir semua negara.
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menunda, memperlambat, dan mencegah proses oksidasi, dan digunakan untuk melindungi komponen-komponen makanan yang bersifat tidak jenuh atau mempunyai ikatan rangkap, terutama lemak dan minyak. Antioksidan dapat pula digunakan untuk melindungi komponen-komponen lain seperti vitamin dan pigmen, yang juga banyak mengandung ikatan rangkap di dalam sturkturnya. Antioksidan yang paling umum digunakan adalah senyawa fenol atau amina aromatis. Beberapa senyawa belerang digunakan pada beberapa bahan dan beberapa asam tertentu digunakan sebagai deactivator logam.
D. Sifat-Sifat Dari Sakarin dalam Bahan Tambahan Makanan
Sifat fisik sakarin yang cukup dikenal adalah tidak stabil pada pemanasan. Sakarin yang digunakan dalam industry makanan adalah sakarin sebagai garam natrium. Hal ini disebabkan karena sakarin dalam bentuk aslinya yaitu asam, bersifat tidak larut dalam air. Sakarin juga tidak mengalami proses penguraian gula dan pati yang menghasilkan asam, sehingga sakarin tidak menyebabkan erosi enamel gigi.
E. Batas Maksimum Penggunaan Sakarin dalam Bahan Tambahan Makanan
Sakarin adalah bubuk kristal putih, tidak berbau dan sangat manis, kira-kira 550 kali lebih manis dari pada gula biasa. Oleh karena itu ia sangat populer dipakai sebagai bahan pengganti gula. Tikus-tikus percobaan yang diberi makan 5% sakarin selama lebih dari 2 tahun, menunjukkan kanker mukosa kandung kemih (dosisnya kira-kira setara 175 gram sakarin sehari untuk orang dewasa seumur hidup).
Sekalipun hasil penelitian ini masih kontroversial, namun kebanyakan para epidemiolog dan peneliti berpendapat, sakarin memang meningkatkan derajat kejadian kanker kandung kemih pada manusia kira-kira 60% lebih tinggi pada para pemakai, khususnya pada kaum laki-laki. Food and Drug Administation (FDA) Amerika menganjurkan untuk membatasi penggunaan sakarin hanya bagi para penderita kencing manis dan obesitas. Dosisnya agar tidak melampaui 1 gram setiap harinya.
Batas maksimum penggunaan sakarin menurut ADI (acceptable daily intkae) yang dikeluarkan oleh FAO ialah 50 – 300 ppm.
Penggunaan sakarin yang berlebihan dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia antara lain migrain dan sakit kepala, kehilangan daya ingat, bingung, insomnia, iritasi, asma, hipertensi, diare, sakit perut, alergi, impotensi dan gangguan seksual, kebotakan, kanker otak, kanker kantung kemih (Anonim1,2010). Pengujian terhadap pemanis sakarin ini digunakan untuk mengetahui apakah es balon yang sering dikonsumsi anak sekolah mengandung sakarin dalam kadar yang tidak berlebih atau bahkan bebas dari sakarin, sehingga aman untuk dikonsumsi.
Pemakaian sakarin berdasarkan SNI 01-6993-2004 tentang Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan - Persyaratan Penggunaan, menyatakan bahwa pada makanan atau minuman olahan khusus yaitu berkalori rendah dan untuk penderita penyakit diabetes melitus kadar maksimum sakarin yang diperbolehkan adalah 300 mg/kg. JECFA menyatakan sakarin merupakan bahan tambahan pangan yang aman untuk dikonsumsi orang normal dengan ADI sebanyak 5,0 mg/kg berat badan. Sejak bulan Desember 2000, FDA telah menghilangkan kewajiban pelabelan pada produk pangan yang mengandung sakarin, dan 100 negara telah mengijinkan penggunaannya. CAC mengatur maksimum penggunaan sakarin pada berbagai produk pangan berkisar antara 80 mg/kg sampai dengan 5.000 mg/kg produk.
Tabel: Batasan Penggunaan Bahan Pemanis pada Pangan
NO Nama Bahan Pemanis Batasan Permenkes Per kg Bobot badan Batasan ADI per kg Makanan
1 Sakarin 50 mg – 300 mg 0 – 5 mg
2 Siklamat 500 mg – 3000 mg 0 – 50 mg
3 Sorbitol 5 g – 300 g -
4 Aspartame - 0 – 40 mg
5 Acesulpame - 0 – 9 mg
Pemakaian sakarin menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No 208/Mnkes/Per/1V/85 tentang pemanis buatan dan Peraturan Menteri Kesehatan RI No 722/Menkes/Per/1X/88 tentang bahan tambahan pangan, menyatakan bahwa pada makanan atau minuman olahan khusus yaitu berkalori rendah dan untuk penderita penyakit diabetes melitus kadar maksimum sakarin yang diperbolehkan adalah 300 mg/kg.
F. Proses Pembuatan Sakarin dalam Bahan Tambahan Makanan
Proses pembuatan sakarin yang paling terkenal saat ini adalah metode yang sama yang digunakan Remsen dan Fahlberg pada tahun 1879. Toluene dan asam klorosulfonic bereaksi pada suhu 0 – 50C membentuk campuran o- dan p-toluenesulfonamide. Campuran tersebut dipisahkan, dan o-toluenesulfonamide dioksidasi menjadi o-carboxybenzenesulfonamide ( asam o-sulfamoylbenzoic ). Senyawa ini dibebaskan dari air menjadi sakarin. P-toluenesulfonamide juga penting dalam pembuatan sakarin dan digunakan sebagai bahan baku pembuatan Chloramine-T (Ulanira, 2009).
Proses pembuatan sakarin yang paling terkenal saat ini adalah metode yang sama yang digunakan Remsen dan Fahlberg pada tahun 1879. Toluene dan asam klorosulfonic bereaksi pada suhu 0 – 50C membentuk campuran o- dan p-toluenesulfonamide. Campuran tersebut dipisahkan, dan o-toluenesulfonamide dioksidasi menjadi o-carboxybenzenesulfonamide ( asam o-sulfamoylbenzoic ). Senyawa ini dibebaskan dari air menjadi sakarin. P-toluenesulfonamide juga penting dalam pembuatan sakarin dan digunakan sebagai bahan baku pembuatan Chloramine-T. Proses dasar ini telah banyak mengalami modifikasi, khususnya pada tahap oksidasi. Orelup (37) mencampur asam chromic dengan asamsulfat dengan konsentrasi lebih dari 50%, merupakan metode yang sering digunakan saat ini. Altwegg dan Collardeau (36) menemukan bahwa keberadaan senyawa sulfat dari besi, kromium, ataupun mangan sangat membantu. Pada Lowels (29) metode elektrolitik o-toluenesulfonamide disuspensi dalam larutan alkali karbonat encer. Reaksi ini dibantu dengan tambahan timbal, serium, atau mangan. Klages (34) menggunakan suatu proses elektrolitik dengan keadaan permanganat sebagai pembawa oksigen. Alkalin kalium permanganat dan alkalin ferri sianida juga diperlukan pada proses ini. Sintesa sakarin yang didasarkan pada asam anthranilik banyak diperjualbelikan di Amerika Serikat. Sejumlah sintesa sakarin yang lain telah banyak dikembangkan, dan beberapa diantaranya telah digunakan secara luas di negara –negara lain.
G. Dampak Penggunaan Sakarin Terhadap Kesehatan yang Berlebihan
Pemanis buatan banyak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia.
1. Migrain dan sakit kepala 8. Diare
2. Kehilangan daya ingat 9. Sakit Perut
3. Bingung 10. Alergi
4. Insomnia 11. Impotensi
5. Iritasi 12. Kebotakan
6. Asma 13. Kankerr Otak
7. Hipertensi 14. Kanker Kandung Kemi
Tikus-tikus percobaan yang diberi makan 5% sakarin selama lebih dari 2 tahun, menunjukkan kanker mukosa kandung kemih (dosisnya kira-kira setara 175 gram sakarin sehari untuk orang dewasa seumur hidup). Sekalipun hasil penelitian ini masih kontroversial, namun kebanyakan para epidemiolog dan peneliti berpendapat, sakarin memang meningkatkan derajat kejadian kanker kandung kemih pada manusia kira-kira 60% lebih tinggi pada para pemakai, khususnya pada kaum laki-laki. Oleh karena itu Food and Drug Administation (FDA), AS menganjurkan untuk membatasi penggunaan sakarin hanya bagi para penderita kencing manis dan obesitas. Dosisnya agar tidak melampaui 1 gram setiap harinya.
a. Efek Akut
Toksisitas sakarin yang ringan pada tubuh dapat menyebaabkan iritasi kulit (alergi) dan gangguan tenggorokan berupa batuk dan radang tenggorokan.
b. Efek Kronis
Toksisitas sakarin pada tingkat yang tinggi dapat menyebabkan kehilangan nafsu makan, menyebabkan mual, muntah, dan kanker kandung kemih pada hewan uji, sehingga digolongkan kedalam senyawa grup 3, yaitu senyawa yang tidak dapat diklasifikasi sebagai karsinogen pada manusia.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sakarin adalah zat pemanis buatan yang dibuat dari garam natrium dari asam sakarin berbentuk bubuk putih, tidak berbau dan sangat manis. Pemanis buatan ini mempunyai tingkat kemanisan 550 kali gula biasa (Suwahono2, 2009).
Sakarin adalah pemanis buatan yang memiliki struktur dasar sulfinida benzoat Karena strukturnya tidak sama dengan karbohidrat, sakarin tidak menghasilkan kalori. Sakarin jauh lebih manis dibanding sukrosa, dengan perbandingan rasa manis kira-kira 400 kali lipat sukrosa.
Sakarin merupakan salah satu zat pemanis buatan yang sering digunakan oleh produsen makanan dan minuman pada produk industri mereka Sakarin jauh lebih manis dibanding sukrosa, dengan perbandingan rasa manis kira-kira 400 kali lipat sukrosa. Namun sayangnya dalam konsentrasi sedang sampai tinggi bersifat meninggalkan aftertaste pahit yang disebabkan oleh kemurnian yang rendah dari proses sintesis. Untuk menghilangkan rasa ini sakarin dapat dicampurkan dengan siklamat dalam perbandingan 1:10 untuk siklamat (artikelbiboer, 2009). Sakarin tidak dapat dimetabolisme dalam tubuh manusia, sehingga tidak dapat menghasilkan energi atau kalori.
Sakarin berupa Ca- atau Na-sakarin merupakan pemanis buatan yang paling lama dikenal. Sakarin merupakan senyawa benzosulfimida atau o-sulfobenzimida dengan rumus molekul C7H5NO3S. O ON Ca. 3½H2O N Na+S SO2 O2
Sakarin merupakan pemanis rendah kalori yang sudah di kenal sejak lama. Sakarin tidak mengandung kalori.
Aditif makanan atau bahan tambahan makanan adalah bahan yang ditambahkan dengan sengaja ke dalam makanan dalam jumlah kecil, dengan tujuan untuk memperbaiki penampakan, cita rasa, tekstur, flavor dan memperpanjang daya simpan. Selain itu dapat meningkatkan nilai gizi seperti protein, mineral dan vitamin. Penggunaan aditif makanan telah digunakan sejak zaman dahulu. Bahan aditif makanan ada dua, yaitu bahan aditif makanan alami dan buatan atau sintetis. Bahan tambahan makanan adalah bahan yang secara alamiah bukan merupakan bagian dari bahan makanan, tetapi terdapat dalam bahan makanan tersebut karena perlakuan saat pengolahan, penyimpanan atau pengemasan.
B. SARAN
Sebaiknya dalam penggunaan Bahan Tambahan Makanan digunakan sesuai dengan batas penentuan BPOM agar tidak tidak beresiko untuk dikomsumsi dan tidak menimbulkan efek terhadap kesehatan kita.
Pemerintah masih sangat kurang peduli dan tidak tegas dalam mengatasi masalah penggunaan bahan tambahan makanan sehingga masih banyak kasus mengenai hal ini terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Anggrahini, Sri. 2008. Keamanan Pangan Kaitannya dengan Penggunaan Bahan Tambahan dan Kontaminan. Diakses di : http://lib.ugm.ac.id/digitasi/upload/732_pp0906016.pdf pada tanggal 24 Mei 2013.
Puspasari, Karen. 2007. Aplikasi Teknologi Dan Bahan Tambahan Pangan Untuk Meningkatkan Umur Simpan Mie Basah Matang. Diakses Di: Http://Repository.Ipb.Ac.Id/Bitstream/Handle/123456789/11791/F07kpu.Pdf pada tanggal 24 Mei 2013.
Effendi, S. 2009. Teknologi Pengolahan Dan Pemanis Pangan. Bandung : Penerbit Alfa Beta
www.sakarin dalam Bahan Tambahan makanan
www.¬Bahan Tambahan Makanan
http://artikelbiboer.blogspot.com/2009/12/sakarin-pemanis-buatan-dari-batubara.html