DOSEN : SULASMI, SKM.,M.Kes
MATA
KULIAH : PARASITOLOGI
MAKALAH
TENTANG SERANGGA KALAJENGKING

DISUSUN
OLEH :
HENDRA
RURU
PO.71.3.221.13.1.020
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN AJARAN 2014/2015
PRODI DIII
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya-lah sehingga kita dapat menyelesaikan Makalah tentang Serangga Kalajengking ini dengan baik. Walaupun sederhana keadaannya, namun diharapkan agar dapat memberi mamfaat bagi kita semua.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini
masih banyak kekurangan dan kesalahan yang terjadi baik dalam bentuk penulisan
kata-kata maupun kalimat yang kurang baku, maka dari itu saran dan kritik
sangat kami harapkan demi kesempurnaannya makalah ini. Karena kami manusia
biasa yang tidak luput dari kesalahan.
Demikianlah makalah yang kami yang susun ini semoga
bermamfaat bagi kita semua, atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.
Makassar,03 Juni 2011
Penyusun
Hendra Ruru
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR………………………………………………………..……………………i
DAFTAR
ISI………………………………………………………………….…………………..ii
BAB I
PENDAHULUAN…………………………………………………………………..………..…...1
A.
Latar Belakang……………………………………………………………………….……1
B.
Tujuan..………………………………………………………………...……………….....1
BAB II
PEMBAHASAN………………………………………...………………………………………...2
A.
Pengertian Serangga
Kalajengking………………………………………………………..2
B.
Toksin yang Disebabkan Oleh Serangga Kalajengking…………………………………...2
C.
Siklus
Hidup……………………………………………………………………………....3
D.
Morfologi Serangga
Kalajengking………………………………………………………...4
E.
Alergi yang Ditimbulkan Oleh Serangga
Kalajengking…………………………………..4
F.
Penyebab dan Gejala Sengatan
Kalajengking……………………………………………..5
G.
Entomofobia Serangga
Kalajengking…………………………………………………..…6
H.
Habitat Serangga
Kalajengking………………………………………………………..….6
I.
Pencegahan dan
Pengobatan…………………………………………………………...….7
BAB III
PENUTUP………………………………………………………………………………………...8
A.
Kesimpulan…...…….......................................................................................................,...8
B.
Saran………………………….…………………………………………………………...8
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………..9
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Kalajengking purba muncul pada pertengahan Masa
Paleozoikum, kira-kira 400 juta tahun yang lalu. Berbeda dengan kalajengking
pada umumnya, bentuk kalajengking purba lebih sederhana. Tubuhnya terdiri dari
banyak ruas-ruas yang terlindung cangkang tipis. Perbedaan lainnya adalah
ukuran tubuh beberapa jenis kalajengking purba yang mencapai 100 kali ukuran
kalajengking masa sekarang, 2 hingga 3 meter. Selain itu, kalajengking purba
juga hidup di air.
Kalajengking adalah
sekelompok hewan beruas dengan delapan kaki (oktopoda) yang termasuk dalam ordo
Scorpiones dalam kelas Arachnida. Kalajengking masih berkerabat dengan
ketonggeng, laba-laba, tungau, dan caplak. Ada sekitar 2000 jenis kalajengking.
Mereka banyak ditemukan selatan dari 49° U, kecuali Selandia Baru dan
Antarktika.
Tubuh kalajengking
dibagi menjadi dua segmen: cephalothorax dan abdomen. Abdomen terdiri dari
mesosoma dan metasoma.
Abdomen adalah istilah
yang digunakan untuk menyebut bagian dari tubuh yang berada di antara thorax
atau dada dan pelvis di hewan mamalia dan vertebrata lainnya. Pada arthropoda,
abdomen adalah bagian paling posterior tubuh, yang berada di belakang thorax
atau cephalothorax (sefalotoraks). Dalam bahasa Indonesia umum, sering pula
disebut dengan perut. Bagian yang ditutupi atau dilingkupi oleh abdomen disebut
cavitas abdominalis atau rongga perut.
B.
TUJUAN
1. Untuk
Mengetahui Apa itu Serangga Kalajengking
2. Untuk
Memahami Toksin Apa yang disebabkan oleh Serangga Kalajengking
3. Untuk
Mengetahui Siklus Hidup dari Serangga Kalajengking
4. Untuk
Memahami Morfologi dari serangga Kalajengking
5. Untuk
Memahami Habitat dari Serangga Kalajengking
6. Untuk
Mengetahui Alergi yang ditimbulkan Oleh Serangga Kalajengking
7. Untuk
Memahami Entamofobia dari Serangga Kalajengking
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Serangga Kalajengking
Kalajengking adalah
sekelompok hewan beruas dengan delapan kaki (oktopoda) yang termasuk dalam ordo
Scorpiones dalam kelas Arachnida. Kalajengking masih berkerabat dengan
ketonggeng, laba-laba, tungau, dan caplak. Ada sekitar 2000 jenis kalajengking.
Mereka banyak ditemukan selatan dari 49° U, kecuali Selandia Baru dan
Antarktika.
Kalajengking atau yang disebut juga scorpio,
merupakan salah satu serangga yang paling menyeramkan dan berbahaya sekali
apa-bila menyengat, terutama bila menggunakan sengatnya yang ada dibelakang.
Seringkali akibat sengatan serangga ini menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri
yang hebat di sekitar luka bekas gigitan.
B.
Toksin yang Disebabkan Oleh Serangga Kalajengking
Semua spesies
kalajengking pada umumnya kalajengking termasuk sebagai neurotoksin (racun
saraf). Suatu pengecualian adalah Hemiscorpius lepturus yang memiliki bisa
sitotoksik (racun sel). Neurotoksin terdiri dari protein kecil dan juga natrium
dan kalium, yang berguna untuk mengganggu transmisi saraf sang korban. Kalajengking
menggunakan bisanya untuk membunuh atau melumpuhkan mangsa mereka agar mudah
dimakan.
Bisa kalajengking
lebih berfungsi terhadap artropoda lainnya dan kebanyakan kalajengking tidak
berbahaya bagi manusia; sengatan menghasilkan efek lokal (seperti rasa sakit,
pembengkakan). Namun beberapa spesies kalajengking, terutama dalam keluarga
Buthidae dapat berbahaya bagi manusia. Salah satu yang paling berbahaya adalah
Leiurus quinquestriatus, dan anggota dari genera Parabuthus, Tityus,
Centruroides, dan terutama Androctonus sp. Kalajengking yang paling banyak
menyebabkan kematian manusia adalah Androctonus australis.
Secara naluriah, kalajengking adalah hewan yang defensif. Ia
cenderung melarikan diri jika mendapati ancaman. Namun, sebagai hewan predator,
kalajengking memiliki senjata racun pada bagian ekornya yang berdiri tegak yang
digunakan sebagai alat mangsa sekaligus perlindungan diri. Racun kalajengking
ini terdiri dari kandungan neurotoksin atau racun syaraf dan bahan lainnya.
Racun kalajengking ada yang ringan, namun ada juga yang sangat mematikan,
tergantung pada jenisnya. Beberapa kalajengking mematikan yang sangat ditakuti
antara lain: death stalker, arabian fat-tailed, yellow fat-tailed, black
spitting dan stripped bark. Untuk membedakan kalajengking yang berbahaya atau
tidak dapat dilihat dari ukuran ekornya. Semakin besar ukuran ekor kalajengking
menandakan semakin beracun kalanjengking tersebut. Pada kalajengking yellow
fat-tailed misalnya, ukuran ekor kalajengking tersebut bahkan lebih besar daripada
ukuran capitnya sendiri. Akibat dari sengatan kalajengking dapat menimbulkan
nyeri otot, kejang-kejang, mual/muntah, bengkak, dan nyeri akut. Untuk racun
yang lebih berat dapat menimbulkan koma bahkan kematian.
C.
Siklus Hidup Dari Serangga
Kalajengking
Kalajengking mempunyai ritual perkimpoian yang kompleks, jantan
menggunakan pedipalpinya mencengkeram pedipalpi betina. Jantan kemudian
membimbing betina melakukan tarian percumbuan. Detailnya setiap jenis berbeda,
dengan memperlihatkan alat penyengatnya yang panjang pada jantan. Sperma dari
jantan dimasukkan ke dalam struktur yang disebut spermatofor, yang diletakkan
oleh jantan ke atas permukaan yang kelak akan diambil oleh betina. Yang jantan
menyapukan pektin ke atas permukaan tanah untuk mebantu menentukan lokasi yang
sesuai untuk meletakkan spermatofor. Selanjutnya kalajengking betina akan
menarik sperma ini ke dalam lubang kelamin, yang letaknya dekat ventral
abdomen.
Kalajengking mempunyai masa hamil dari beberapa bulan sampai
lebih satu tahun, tergantung jenis, tempat embrio berkembang di dalam
ovariuterus atau dalam divertikula khusus yang bercabang dari ovariuterus.
Anak-anak yang dilahirkan hidup akan anaik ke punggung ibunya. Ibunya membantu
mereka dengan membuatkan kantong melahirkan dengan kaki terlipat untuk
menangkap mereka ketika lahir dan untuk menyediakan mereka menaiki punggung
ibunya. Rata-rata, seekor betina bisa
melahirkan 25-35 ekor anak. Mereka tetap pada punggungnya, sampai mereka
molting untuk pertama kali. Setelah kalajengking muda putih turun dari punggung
betina, molting, kemudian balik lagi ke punggung induk selama 4-5 hari sebelum
meninggalkan induk, biasanya dalam waktu 1-3 minggu setelah lahir.
Sekali mereka turun, mereka sudah mampu bebas, dan secara
periodik molting untuk mencapai dewasa. Biasanya molting terjadi 5 atau 6 kali
selama 2-6 tahun untukmencapai dewasa. Rata-rata kalajengking kemungkinan hidup
3-5 tahun, tetapi beberapa spesies bisa hidup sampai 25 tahun. Beberapa jenis
menunjukkan perilaku sosial, seperti membentuk agregasi selama musim dingin,
menggali koloni dan mencari makan bersama.
D.
Morfologi Serangga
Kalajengking
Sebagaimana Arachnida, kalajengking mempunyai
mulut yang disebut khelisera,
sepasang
pedipalpi, dan empat pasang tungkai. Pedipalpi seperti capit terutama
digunakan
untuk menangkap mangsa dan alat pertahanan, tetapi juga dilengkapi dengan
berbagai
tipe rambut sensor. Tubuhnya dibagi menjadi dua bagian yaitu sefalotoraks dan
abdomen.
Sefalotoraks ditutup oleh karapas atau pelindung kepala yang biasanya
mempunyai
sepasang mata median dan 2-5 pasang mata lateral di depan ujung depan.
Beberapa
kalajengking yang hidup di guwa dan di liter sekitar permukiman tidak
mempunyai
mata. Abdomen terdiri atas 12 ruas yang jelas, dengan bagian lima ruas terakhir
membentuk ruas metasoma yang oleh kebanyakan orang menyebutnya ekor. Ujung
abdomen disebut telson, yang bentuknya bulat mengandung kelenjar racu(venom).
Alat penyengat berbentuk lancip tempat mengalirkan venom. Pada bagian ventral,
kalajengking mempunyai sepasang organ sensoris yang bentuknya seperti sisir
unik disebut pektin. Pektin ini biasanya lebih besar dan mempunyai gigi lebih
banyak pada yang jantan dan digunakan sebagai sensor terhadap permukaan tekstur
dan vibrasi. Pektin juga bekerja sebagai kemoreseptor (sensor kimia) untuk
mendeteksi feromon (komunikasi kimia)
E.
Alergi yang Ditimbulkan Oleh Serangga
Kalajengking
Serangga
kalajengking yang menyengat sehingga menyebabkan alergi seperti rasa gatal dan
bintik-bintik merah serta bengkak dan disertai flu.
F.
Penyebab dan Gejala Serangga
Kalajengking
Penyebab
Orang yang disengat kalajengking
akan mengalami nyeri dan sejumlah gejala lainnya karena saat menyengat,
kalajengking ‘menyuntikkan’ bisa berisi campuran berbagai racun yang dapat
mengganggu kinerja sistem saraf (neurotoksin). Namun kalajengking dapat
mengontrol jumlah racun yang dilepaskannya, tergantung seberapa besar ancaman
yang mereka rasakan. Jadi terkadang sengatannya bisa tidak beracun sama sekali.
Gejala
1. Anak-anak
a. Nyeri yang terkadang intens, mati
rasa dan kesemutan di seputar daerah yang terkena sengatan tapi muncul sedikit
atau tak ada pembengkakan
b. Otot terasa berkedut-kedut
c. Mata, leher dan kepala melakukan gerakan-gerakan
yang tak biasa
d. Ngiler atau keluar air liur
e. Berkeringat
f. Gelisah atau menangis tanpa henti
2. Dewasa
a. Bernafas dengan cepat
b. Tekanan darah tinggi
c. Detak jantung meningkat
d. Otot terasa berkedut-kedut
e. Lemas
G.
Entomofobia
Serangga juga seringkali membuat sebagian
orang merasa ketakutan, jijik, dan benci terhadap serangga
(entomofobia), misalnya kecoa, ulat, kalajengking, laba-laba, lebah
dan lainnya. Bagi sebagian orang yang peka terhadap serangga, reaksi alergi,
kegatalan, dan dermatitis, merupakan hal yang sering dijumpai. Selain itu
beberapa ektoparasit seperti caplak bahkan bisa menimbulkan kelumpuhan akibat
racun yang dikeluarkannya (tick paralysis).
Entomofobia
adalah ketakutan yang tidak logis atau yang mengada-ada terhadap serangga tanpa
disertai adanya gigitan atau investasi (invasi parasitoid) serangga yang
dialami oleh seseorang. Menurut Dr. Philip Weinsten dari Univeristy of Otago,
salah satu definisi yang benar tentang entomofobia adalah rasa takut yang
dialami oleh seseorang dan keinginan untuk menjauhi serangga, tungau,
laba-laba, atau objek fobik lainnya
H. Habitat
Serangga Kalajengking
Habitat kalajengking
berada pada tempat yang lembab di bawah pepohonan besar atau rumpun bambu,
dengan tanah yang agar berpasir lebih disukai dari pada jenis tanah liat,
karena kalajengking di alam bebas biasanya tinggal di liang di antara akar-akar
pepohonan. Kalajengking menjalankan aktifitasnya biasanya di pagi dan sore
hari, pada siang hari waktu lebih banyak dihabiskan untuk bersembunyi di
sarangnya. Kalajengking juga terdapat di hutan hujan tropis dan gua
adapula yang terdapat di gurun pasir sehingga mereka sudah sangat terlatih
untuk bertahan hidup tanpa makan dan minum. Beberapa ditemukan di bawah
bebatuan
Bisa kalajengking lebih berfungsi terhadap
arthropod lainnya dan kebanyakan kalajengking tidak berbahaya bagi manusia;
sengatan menghasilkan efek lokal (seperti rasa sakit, pembengkakan). Namun
beberapa spesies kalajengking, terutama dalam keluarga Buthidae dapat berbahaya
bagi manusia. Salah satu yang paling berbahaya adalah Leiurus Quinquestriatus,
dan anggota dari genera Parabuthus, Tityus, Centruroides, dan terutama
Androctonus. Kalajengking yang paling banyak menyebabkan kematian manusia
adalah Androctonus Australis.
I.
Pencegahan
dan Pengobatan Serangga Kalajengking
Pengobatan
Tingginya populasi kalajengking dapat menjadi
masalah dalam beberapa keadaan.
Bagaimana populasi kalajengking dapat
dikurangi? Kalajengking sulit dikendalikan
dengan hanya dengan menggunakan insektisida.
Oleh karena itu, strategi pengendalian
pertama yaitu untuk memodifikasi daerah sekitar
struktur permukiman.
1.
Buanglah
semua tempat persembunyian kalajengking seperti sampah, tumpukan kayu, papan,
batu, bata dan berbagai benda di sekitar gedung.
2.
Pelihara
rumput di sekitar perumahan dengan rutin memotongnya. Pangkas pohon dan
cabang-cabang pohon yang menggantung di sekitar rumag. Cabang pohon dapat
menjadi jalan ke atap bagi kalajengking.
3.
Taruhlah
kontainer sampah di dalam kerangka yang membuat tempat sampah tidak langsung
berhubungan dengan tanah.
4.
Jangan
sekali-kali membawa masuk kayu bakar ke dalam rumah, kecuali ditempatkan
langsung di api.
5.
Tutuplah
celah dan retakan yang ada di atap, dinding, pipa dan bagian bangunan lainnya.
6.
Pasanglah
kawat kasa pada jendela, pintu, dan tetap dijaga dari kerusakan dan lain-lain.
7.
Gunakan lampu “black light”pada malam hari
untuk memeriksa keberadaan kalajengking. Tangkaplah dengan menggunakan tang yang
besar dan panjang, kemudian lepas kembali di alam atau anda hancurkan.
8.
Berbagai jenis insektisida dapat digunanakan,
meski kurang begitu efektif. Aplikasi insektisida residual dapat dilakukan pada
bagian dasar rumah yang dicurigai banyak terdapat kalajengking.
9.
Apabila
disengat kalajengking, segeralah lakukan pengompresan dingin dengan ice pack,
dan segera pergi ke dokter.
9.Pengobatan
a.
Pijatlah
daerah sekitar luka sampai racun keluar
b.
Ikatlah
tubuh di sebelah pangkal yang digigit
c.
Tempelkan
asam yang dilumatkan
di atas luka
d.
Bobokkan
serbuk lada dan minyak goreng pada luka
e.
Taburkan
garam di sekeliling bivak untuk pencegahan
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Kalajengking adalah sekelompok hewan beruas
dengan delapan kaki (oktopoda) yang termasuk dalam ordo Scorpiones dalam kelas
Arachnida. Kalajengking masih berkerabat dengan ketonggeng, laba-laba, tungau,
dan caplak. Ada sekitar 2000 jenis kalajengking. Mereka banyak ditemukan
selatan dari 49° U, kecuali Selandia Baru dan Antarktika.
Kalajengking atau yang disebut juga scorpio,
merupakan salah satu serangga yang paling menyeramkan dan berbahaya sekali
apa-bila menyengat, terutama bila menggunakan sengatnya yang ada dibelakang.
Seringkali akibat sengatan serangga ini menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri
yang hebat di sekitar luka bekas gigitan.
B. SARAN
Pencegahan dari senagatn serangga kalajengking
adalah
1.
Buanglah
semua tempat persembunyian kalajengking seperti sampah, tumpukan kayu, papan,
batu, bata dan berbagai benda di sekitar rumah,kampus atau tempat umum.
2.
Pelihara
rumput di sekitar perumahan dengan rutin memotongnya. Pangkas pohon dan
cabang-cabang pohon yang menggantung di sekitar rumah. Cabang pohon dapat
menjadi jalan ke atap bagi kalajengking.
3.
Taruhlah
kontainer sampah di dalam kerangka yang membuat tempat sampah tidak langsung
berhubungan dengan tanah.
4.
Jangan
sekali-kali membawa masuk kayu bakar ke dalam rumah, kecuali ditempatkan
langsung di api.
5.
Tutuplah
celah dan retakan yang ada di atap, dinding, pipa dan bagian bangunan lainnya.
6.
Pasanglah
kawat kasa pada jendela, pintu, dan tetap dijaga dari kerusakan dan lain-lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Goddard, J. 1996.
Physician’s Guide to Arthropods of Medical Importance. 2nd ed. Boca
Raton, FL: CRC Press,
Inc.
http://animalworld.com/encyclo/reptiles/scorpions/AsianForestScorpion.php#Description
Malaysian Forest
ScorpionGiant Forest Scorpion, Giant Blue Scorpion, Asian Forest
Scorpion
Mallis, A. 1983.
Handbook of Pest Control. 6th ed. Cleveland, OH: Franzak and Foster
Co.
Mullen, GR & SA
Stockwell. 2002. Scorpion (Scorpiones). Dalam Gary Mullen & Lance
Durden. Medical and
Veterinary Entomology. Academic Press. New York, Tokyo.
Smith, R. L. 1982.
Venomous Animals of Arizona. Tucson: Univ. Arizona, College of
Agriculture, Bulletin
8245.
www.serangga
kalajengking.com
