Senin, 08 September 2014



DOSEN                 : SULASMI, SKM.,M.Kes
MATA KULIAH     : PARASITOLOGI

MAKALAH TENTANG SERANGGA KALAJENGKING
http://ts4.mm.bing.net/th?id=H.4615458963982199&pid=15.1

DISUSUN OLEH :

HENDRA RURU
PO.71.3.221.13.1.020




KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN AJARAN 2014/2015
PRODI DIII
KATA PENGANTAR

            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya-lah sehingga kita dapat menyelesaikan Makalah tentang Serangga Kalajengking  ini dengan baik. Walaupun sederhana keadaannya, namun diharapkan agar  dapat memberi mamfaat bagi kita semua.
            Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang terjadi baik dalam bentuk penulisan kata-kata maupun kalimat yang kurang baku, maka dari itu saran dan kritik sangat kami harapkan demi kesempurnaannya makalah ini. Karena kami manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.
            Demikianlah makalah yang kami yang susun ini semoga bermamfaat bagi kita semua, atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.










Makassar,03 Juni  2011
Penyusun


Hendra Ruru
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………..……………………i
DAFTAR ISI………………………………………………………………….…………………..ii
BAB I
PENDAHULUAN…………………………………………………………………..………..…...1
A.    Latar Belakang……………………………………………………………………….……1
B.     Tujuan..………………………………………………………………...……………….....1
BAB II
PEMBAHASAN………………………………………...………………………………………...2
A.    Pengertian Serangga Kalajengking………………………………………………………..2
B.     Toksin yang Disebabkan Oleh Serangga Kalajengking…………………………………...2
C.     Siklus Hidup……………………………………………………………………………....3
D.    Morfologi Serangga Kalajengking………………………………………………………...4
E.     Alergi yang Ditimbulkan Oleh Serangga Kalajengking…………………………………..4
F.      Penyebab dan Gejala Sengatan Kalajengking……………………………………………..5
G.    Entomofobia Serangga Kalajengking…………………………………………………..…6
H.    Habitat Serangga Kalajengking………………………………………………………..….6
I.       Pencegahan dan Pengobatan…………………………………………………………...….7
BAB III
PENUTUP………………………………………………………………………………………...8
A.    Kesimpulan…...…….......................................................................................................,...8
B.     Saran………………………….…………………………………………………………...8
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………..9





BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Kalajengking purba muncul pada pertengahan Masa Paleozoikum, kira-kira 400 juta tahun yang lalu. Berbeda dengan kalajengking pada umumnya, bentuk kalajengking purba lebih sederhana. Tubuhnya terdiri dari banyak ruas-ruas yang terlindung cangkang tipis. Perbedaan lainnya adalah ukuran tubuh beberapa jenis kalajengking purba yang mencapai 100 kali ukuran kalajengking masa sekarang, 2 hingga 3 meter. Selain itu, kalajengking purba juga hidup di air.
Kalajengking adalah sekelompok hewan beruas dengan delapan kaki (oktopoda) yang termasuk dalam ordo Scorpiones dalam kelas Arachnida. Kalajengking masih berkerabat dengan ketonggeng, laba-laba, tungau, dan caplak. Ada sekitar 2000 jenis kalajengking. Mereka banyak ditemukan selatan dari 49° U, kecuali Selandia Baru dan Antarktika.
Tubuh kalajengking dibagi menjadi dua segmen: cephalothorax dan abdomen. Abdomen terdiri dari mesosoma dan metasoma.
Abdomen adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bagian dari tubuh yang berada di antara thorax atau dada dan pelvis di hewan mamalia dan vertebrata lainnya. Pada arthropoda, abdomen adalah bagian paling posterior tubuh, yang berada di belakang thorax atau cephalothorax (sefalotoraks). Dalam bahasa Indonesia umum, sering pula disebut dengan perut. Bagian yang ditutupi atau dilingkupi oleh abdomen disebut cavitas abdominalis atau rongga perut.
B.     TUJUAN
1.      Untuk Mengetahui Apa itu Serangga Kalajengking
2.      Untuk Memahami Toksin Apa yang disebabkan oleh Serangga Kalajengking
3.      Untuk Mengetahui Siklus Hidup dari Serangga Kalajengking
4.      Untuk Memahami Morfologi dari serangga Kalajengking
5.      Untuk Memahami Habitat dari Serangga Kalajengking
6.      Untuk Mengetahui Alergi yang ditimbulkan Oleh Serangga Kalajengking
7.      Untuk Memahami Entamofobia dari Serangga Kalajengking





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Serangga Kalajengking
Kalajengking adalah sekelompok hewan beruas dengan delapan kaki (oktopoda) yang termasuk dalam ordo Scorpiones dalam kelas Arachnida. Kalajengking masih berkerabat dengan ketonggeng, laba-laba, tungau, dan caplak. Ada sekitar 2000 jenis kalajengking. Mereka banyak ditemukan selatan dari 49° U, kecuali Selandia Baru dan Antarktika.
Kalajengking atau yang disebut juga scorpio, merupakan salah satu serangga yang paling menyeramkan dan berbahaya sekali apa-bila menyengat, terutama bila menggunakan sengatnya yang ada dibelakang. Seringkali akibat sengatan serangga ini menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri yang hebat di sekitar luka bekas gigitan.
B.     Toksin yang Disebabkan Oleh Serangga Kalajengking
Semua spesies kalajengking pada umumnya kalajengking termasuk sebagai neurotoksin (racun saraf). Suatu pengecualian adalah Hemiscorpius lepturus yang memiliki bisa sitotoksik (racun sel). Neurotoksin terdiri dari protein kecil dan juga natrium dan kalium, yang berguna untuk mengganggu transmisi saraf sang korban. Kalajengking menggunakan bisanya untuk membunuh atau melumpuhkan mangsa mereka agar mudah dimakan.
Bisa kalajengking lebih berfungsi terhadap artropoda lainnya dan kebanyakan kalajengking tidak berbahaya bagi manusia; sengatan menghasilkan efek lokal (seperti rasa sakit, pembengkakan). Namun beberapa spesies kalajengking, terutama dalam keluarga Buthidae dapat berbahaya bagi manusia. Salah satu yang paling berbahaya adalah Leiurus quinquestriatus, dan anggota dari genera Parabuthus, Tityus, Centruroides, dan terutama Androctonus sp. Kalajengking yang paling banyak menyebabkan kematian manusia adalah Androctonus australis.
Secara naluriah, kalajengking adalah hewan yang defensif. Ia cenderung melarikan diri jika mendapati ancaman. Namun, sebagai hewan predator, kalajengking memiliki senjata racun pada bagian ekornya yang berdiri tegak yang digunakan sebagai alat mangsa sekaligus perlindungan diri. Racun kalajengking ini terdiri dari kandungan neurotoksin atau racun syaraf dan bahan lainnya. Racun kalajengking ada yang ringan, namun ada juga yang sangat mematikan, tergantung pada jenisnya. Beberapa kalajengking mematikan yang sangat ditakuti antara lain: death stalker, arabian fat-tailed, yellow fat-tailed, black spitting dan stripped bark. Untuk membedakan kalajengking yang berbahaya atau tidak dapat dilihat dari ukuran ekornya. Semakin besar ukuran ekor kalajengking menandakan semakin beracun kalanjengking tersebut. Pada kalajengking yellow fat-tailed misalnya, ukuran ekor kalajengking tersebut bahkan lebih besar daripada ukuran capitnya sendiri. Akibat dari sengatan kalajengking dapat menimbulkan nyeri otot, kejang-kejang, mual/muntah, bengkak, dan nyeri akut. Untuk racun yang lebih berat dapat menimbulkan koma bahkan kematian.
C.     Siklus Hidup Dari Serangga Kalajengking
Kalajengking mempunyai ritual perkimpoian yang kompleks, jantan menggunakan pedipalpinya mencengkeram pedipalpi betina. Jantan kemudian membimbing betina melakukan tarian percumbuan. Detailnya setiap jenis berbeda, dengan memperlihatkan alat penyengatnya yang panjang pada jantan. Sperma dari jantan dimasukkan ke dalam struktur yang disebut spermatofor, yang diletakkan oleh jantan ke atas permukaan yang kelak akan diambil oleh betina. Yang jantan menyapukan pektin ke atas permukaan tanah untuk mebantu menentukan lokasi yang sesuai untuk meletakkan spermatofor. Selanjutnya kalajengking betina akan menarik sperma ini ke dalam lubang kelamin, yang letaknya dekat ventral abdomen.
Kalajengking mempunyai masa hamil dari beberapa bulan sampai lebih satu tahun, tergantung jenis, tempat embrio berkembang di dalam ovariuterus atau dalam divertikula khusus yang bercabang dari ovariuterus. Anak-anak yang dilahirkan hidup akan anaik ke punggung ibunya. Ibunya membantu mereka dengan membuatkan kantong melahirkan dengan kaki terlipat untuk menangkap mereka ketika lahir dan untuk menyediakan mereka menaiki punggung ibunya.  Rata-rata, seekor betina bisa melahirkan 25-35 ekor anak. Mereka tetap pada punggungnya, sampai mereka molting untuk pertama kali. Setelah kalajengking muda putih turun dari punggung betina, molting, kemudian balik lagi ke punggung induk selama 4-5 hari sebelum meninggalkan induk, biasanya dalam waktu 1-3 minggu setelah lahir.
Sekali mereka turun, mereka sudah mampu bebas, dan secara periodik molting untuk mencapai dewasa. Biasanya molting terjadi 5 atau 6 kali selama 2-6 tahun untukmencapai dewasa. Rata-rata kalajengking kemungkinan hidup 3-5 tahun, tetapi beberapa spesies bisa hidup sampai 25 tahun. Beberapa jenis menunjukkan perilaku sosial, seperti membentuk agregasi selama musim dingin, menggali koloni dan mencari makan bersama.
D.    Morfologi Serangga Kalajengking
 Sebagaimana Arachnida, kalajengking mempunyai mulut yang disebut khelisera,
sepasang pedipalpi, dan empat pasang tungkai. Pedipalpi seperti capit terutama
digunakan untuk menangkap mangsa dan alat pertahanan, tetapi juga dilengkapi dengan
berbagai tipe rambut sensor. Tubuhnya dibagi menjadi dua bagian yaitu sefalotoraks dan
abdomen. Sefalotoraks ditutup oleh karapas atau pelindung kepala yang biasanya
mempunyai sepasang mata median dan 2-5 pasang mata lateral di depan ujung depan.
Beberapa kalajengking yang hidup di guwa dan di liter sekitar permukiman tidak
mempunyai mata. Abdomen terdiri atas 12 ruas yang jelas, dengan bagian lima ruas terakhir membentuk ruas metasoma yang oleh kebanyakan orang menyebutnya ekor. Ujung abdomen disebut telson, yang bentuknya bulat mengandung kelenjar racu(venom). Alat penyengat berbentuk lancip tempat mengalirkan venom. Pada bagian ventral, kalajengking mempunyai sepasang organ sensoris yang bentuknya seperti sisir unik disebut pektin. Pektin ini biasanya lebih besar dan mempunyai gigi lebih banyak pada yang jantan dan digunakan sebagai sensor terhadap permukaan tekstur dan vibrasi. Pektin juga bekerja sebagai kemoreseptor (sensor kimia) untuk mendeteksi feromon (komunikasi kimia)
                             kalajengking
E.     Alergi yang Ditimbulkan Oleh Serangga Kalajengking
Serangga kalajengking yang menyengat sehingga menyebabkan alergi seperti rasa gatal dan bintik-bintik merah serta bengkak dan disertai flu.
F.      Penyebab dan Gejala Serangga Kalajengking
Penyebab
Orang yang disengat kalajengking akan mengalami nyeri dan sejumlah gejala lainnya karena saat menyengat, kalajengking ‘menyuntikkan’ bisa berisi campuran berbagai racun yang dapat mengganggu kinerja sistem saraf (neurotoksin). Namun kalajengking dapat mengontrol jumlah racun yang dilepaskannya, tergantung seberapa besar ancaman yang mereka rasakan. Jadi terkadang sengatannya bisa tidak beracun sama sekali.
Gejala
1.      Anak-anak
a.       Nyeri yang terkadang intens, mati rasa dan kesemutan di seputar daerah yang terkena sengatan tapi muncul sedikit atau tak ada pembengkakan
b.      Otot terasa berkedut-kedut
c.       Mata, leher dan kepala melakukan gerakan-gerakan yang tak biasa
d.      Ngiler atau keluar air liur
e.       Berkeringat
f.        Gelisah atau menangis tanpa henti
2.      Dewasa
a.       Bernafas dengan cepat
b.      Tekanan darah tinggi
c.        Detak jantung meningkat
d.       Otot terasa berkedut-kedut
e.        Lemas
G.    Entomofobia
Serangga  juga seringkali membuat sebagian orang merasa ketakutan, jijik, dan benci terhadap serangga  (entomofobia),  misalnya  kecoa, ulat, kalajengking, laba-laba, lebah dan lainnya. Bagi sebagian orang yang peka terhadap serangga, reaksi alergi, kegatalan, dan dermatitis, merupakan hal yang sering dijumpai. Selain itu beberapa ektoparasit seperti caplak bahkan bisa menimbulkan kelumpuhan akibat racun yang dikeluarkannya (tick paralysis).
Entomofobia adalah ketakutan yang tidak logis atau yang mengada-ada terhadap serangga tanpa disertai adanya gigitan atau investasi (invasi parasitoid) serangga yang dialami oleh seseorang. Menurut Dr. Philip Weinsten dari Univeristy of Otago, salah satu definisi yang benar tentang entomofobia adalah rasa takut yang dialami oleh seseorang dan keinginan untuk menjauhi serangga, tungau, laba-laba, atau objek fobik lainnya
H.    Habitat Serangga Kalajengking
Habitat kalajengking berada pada tempat yang lembab di bawah pepohonan besar atau rumpun bambu, dengan tanah yang agar berpasir lebih disukai dari pada jenis tanah liat, karena kalajengking di alam bebas biasanya tinggal di liang di antara akar-akar pepohonan. Kalajengking menjalankan aktifitasnya biasanya di pagi dan sore hari, pada siang hari waktu lebih banyak dihabiskan untuk bersembunyi di sarangnya. Kalajengking juga  terdapat di hutan hujan tropis dan gua adapula yang terdapat di gurun pasir sehingga mereka sudah sangat terlatih untuk bertahan hidup tanpa makan dan minum.  Beberapa ditemukan di bawah bebatuan
 Bisa kalajengking lebih berfungsi terhadap arthropod lainnya dan kebanyakan kalajengking tidak berbahaya bagi manusia; sengatan menghasilkan efek lokal (seperti rasa sakit, pembengkakan). Namun beberapa spesies kalajengking, terutama dalam keluarga Buthidae dapat berbahaya bagi manusia. Salah satu yang paling berbahaya adalah Leiurus Quinquestriatus, dan anggota dari genera Parabuthus, Tityus, Centruroides, dan terutama Androctonus. Kalajengking yang paling banyak menyebabkan kematian manusia adalah Androctonus Australis.
I.       Pencegahan dan Pengobatan Serangga Kalajengking
Pengobatan
Tingginya populasi kalajengking dapat menjadi masalah dalam beberapa keadaan.
Bagaimana populasi kalajengking dapat dikurangi? Kalajengking sulit dikendalikan
dengan hanya dengan menggunakan insektisida. Oleh karena itu, strategi pengendalian
pertama yaitu untuk memodifikasi daerah sekitar struktur permukiman.
1.      Buanglah semua tempat persembunyian kalajengking seperti sampah, tumpukan kayu, papan, batu, bata dan berbagai benda di sekitar gedung.
2.      Pelihara rumput di sekitar perumahan dengan rutin memotongnya. Pangkas pohon dan cabang-cabang pohon yang menggantung di sekitar rumag. Cabang pohon dapat menjadi jalan ke atap bagi kalajengking.
3.      Taruhlah kontainer sampah di dalam kerangka yang membuat tempat sampah tidak langsung berhubungan dengan tanah.
4.      Jangan sekali-kali membawa masuk kayu bakar ke dalam rumah, kecuali ditempatkan langsung di api.
5.      Tutuplah celah dan retakan yang ada di atap, dinding, pipa dan bagian bangunan lainnya.
6.      Pasanglah kawat kasa pada jendela, pintu, dan tetap dijaga dari kerusakan dan lain-lain.
7.       Gunakan lampu “black light”pada malam hari untuk memeriksa keberadaan kalajengking. Tangkaplah dengan menggunakan tang yang besar dan panjang, kemudian lepas kembali di alam atau anda hancurkan.
8.       Berbagai jenis insektisida dapat digunanakan, meski kurang begitu efektif. Aplikasi insektisida residual dapat dilakukan pada bagian dasar rumah yang dicurigai banyak terdapat kalajengking.
9.      Apabila disengat kalajengking, segeralah lakukan pengompresan dingin dengan ice pack, dan segera pergi ke dokter.
9.Pengobatan
a.       Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar
b.      Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit
c.       Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka
d.      Bobokkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka
e.       Taburkan garam di sekeliling bivak untuk pencegahan















BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
 Kalajengking adalah sekelompok hewan beruas dengan delapan kaki (oktopoda) yang termasuk dalam ordo Scorpiones dalam kelas Arachnida. Kalajengking masih berkerabat dengan ketonggeng, laba-laba, tungau, dan caplak. Ada sekitar 2000 jenis kalajengking. Mereka banyak ditemukan selatan dari 49° U, kecuali Selandia Baru dan Antarktika.
Kalajengking atau yang disebut juga scorpio, merupakan salah satu serangga yang paling menyeramkan dan berbahaya sekali apa-bila menyengat, terutama bila menggunakan sengatnya yang ada dibelakang. Seringkali akibat sengatan serangga ini menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri yang hebat di sekitar luka bekas gigitan.
B.     SARAN
Pencegahan dari senagatn serangga kalajengking adalah
1.      Buanglah semua tempat persembunyian kalajengking seperti sampah, tumpukan kayu, papan, batu, bata dan berbagai benda di sekitar rumah,kampus atau tempat umum.
2.      Pelihara rumput di sekitar perumahan dengan rutin memotongnya. Pangkas pohon dan cabang-cabang pohon yang menggantung di sekitar rumah. Cabang pohon dapat menjadi jalan ke atap bagi kalajengking.
3.      Taruhlah kontainer sampah di dalam kerangka yang membuat tempat sampah tidak langsung berhubungan dengan tanah.
4.      Jangan sekali-kali membawa masuk kayu bakar ke dalam rumah, kecuali ditempatkan langsung di api.
5.      Tutuplah celah dan retakan yang ada di atap, dinding, pipa dan bagian bangunan lainnya.
6.      Pasanglah kawat kasa pada jendela, pintu, dan tetap dijaga dari kerusakan dan lain-lain.












DAFTAR PUSTAKA
Goddard, J. 1996. Physician’s Guide to Arthropods of Medical Importance. 2nd ed. Boca
Raton, FL: CRC Press, Inc.
http://animalworld.com/encyclo/reptiles/scorpions/AsianForestScorpion.php#Description
Malaysian Forest ScorpionGiant Forest Scorpion, Giant Blue Scorpion, Asian Forest
Scorpion
Mallis, A. 1983. Handbook of Pest Control. 6th ed. Cleveland, OH: Franzak and Foster
Co.
Mullen, GR & SA Stockwell. 2002. Scorpion (Scorpiones). Dalam Gary Mullen & Lance
Durden. Medical and Veterinary Entomology. Academic Press. New York, Tokyo.
Smith, R. L. 1982. Venomous Animals of Arizona. Tucson: Univ. Arizona, College of
Agriculture, Bulletin 8245.
www.serangga kalajengking.com

1 komentar: