DOSEN : Samsong B.Supeno,ST.,M.Si
MATA
KULIAH : Dasar Tehnik
MAKALAH
TENTANG BETON DAN BAHAN PEREKAT

DISUSUN
OLEH :
HENDRA
RURU
PO.71.3.221.13.1.020
Tingkat
II.A
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN AJARAN 2014/2015
PRODI DIII
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya-lah sehingga kita dapat menyelesaikan Makalah tentang Pembuatan Beton ini dengan baik. Walaupun sederhana keadaannya, namun diharapkan agar dapat memberi mamfaat bagi kita semua. Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang terjadi baik dalam bentuk penulisan kata-kata maupun kalimat yang kurang baku, maka dari itu saran dan kritik sangat kami harapkan demi kesempurnaannya makalah ini. Karena kami manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.
Demikianlah makalah yang kami yang susun ini semoga
bermamfaat bagi kita semua, atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.
Makassar,08 Oktober
2014
Penyusun
Hendra Ruru
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Bahan Perekat merupakan komponen
penting dalam konstruksi bangunan, dan berpengaruh terhadap jalannya suatu
pengerjaan kontruksi. Bahan dan materialnyapun berbeda-beda. Terdapat agregat
kasar dengan bahan perekat agregat.
Perekat digunakan untuk menyatukan
bahan/ material-material yang ada dan ditujukan untuk memperkuat bangunan,
sehingga bangunan menjadi lebih kokoh, kuat.
Bahan perekat memiliki
bermacam-macam jenis. Seperti bahan perekat hidrolis yang dicampur dengan air,
bahan perekat kayu seperti lignin, dan bahan perekat mortar dengan beton. Dalam
perkembangan peradaban manusia khususnya dalam hal bangunan, tentu kerap
mendengar cerita tentang kemampuan nenek moyang merekatkan batu-batu raksasa
hanya dengan mengandalkan zat putih telur, ketan atau lainnya. Alhasil,
berdirilah bangunan fenomenal, seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan di
Indonesia ataupun jembatan di Cina yang menurut legenda menggunakan ketan
sebagai perekat. Ataupun menggunakan aspal alam sebagaimana peradaban di
Mahenjo Daro dan Harappa di India ataupun bangunan kuno yang dijumpai di Pulau
Buton.
Peristiwa tadi menunjukkan
dikenalnya fungsi beton sejak zaman dahulu. Sebelum mencapai bentuk seperti
sekarang, perekat dan penguat bangunan ini awalnya merupakan hasil percampuran
batu kapur dan abu vulkanis. Pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi,
tepatnya di Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu lantas dinamai
pozzuolana. Menyusul runtuhnya Kerajaan Romawi, sekitar abad pertengahan (tahun
1100-1500 M) resep ramuan pozzuolana sempat menghilang dari peredaran.
Material itu sendiri adalah benda
yang dengan sifat-sifatnya yang khas dimanfaatkan dalam bangunan, mesin,
peralatan atau produk. Dan Sains material yaitu suatu cabang ilmu yan meliputi
pengembangan dan penerapan pengetahuan yang mengkaitkan komposisi, struktur
dan pemrosesan material dengan sifat-sifat kegunaannya.semen termasuk material
yang sangat akrab dalam kehidupan kita sehari-hari.
B.
TUJUAN
1.
Untuk
Mengetahui pengertian dari agregat dan bahan perekat
2.
Untuk
memahami apa itu Beton dan apa kekurangan serta kelebihan dari beton
3.
Untuk
mengetahui sifat-sifat dari beton
4.
Untuk memahami
bahan-bahan penyusun beton
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengetian
dari Agregat dan Bahan Perekat
Agregat adalah butiran mineral yang
berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran mortar (aduk) dan beton. Agregat
diperoleh dari sumber daya alam yang telah mengalami pengecilan ukuran secara
alamiah melalui proses pelapukan dan aberasi yang berlangsung lama. Atau
agregat dapat juga diperoleh dengan memecah batuan induk yang lebih besar.
Agregat halus untuk beton adalah
agregat berupa pasir alam sebagai hasil disintegrasi alami dari batu-batuan
atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu dan
mempunyai ukuran butir 5 mm.
Agregat kasar untuk beton adalah
agregat berupa kerikil kecil sebagai hasil disintegrasi alami dari batu-batuan
atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu, memiliki ukuran
butir antara 5-40 mm. \
B.
Kelebihan dan
Kekurangan Beton
a.
Kelebihan Beton
1.
Harganya
relatif murah karena menggunakan bahan lokal.
2.
Mempunyai
kekuatan tekan yang tinggi, serta mempunyai sifat tahan terhadap pengkaratan
atau pembusukan oleh kondisi lingkungan.
3.
Adukan
beton mudah diangkut maupun dicetak dalam bentuk dan ukuran sesuai keinginan.
4.
Kuat
tekan beton jika dikombinasikan dengan baja akan mampu memikul beban yang
berat.
5.
Adukan
beton dapat disemprotkan di permukaan beton lama yang retak maupun diisikan ke
dalam retakan beton dalam proses perbaikan. Selain itu dapat pula dipompakan ke
tempat yang posisinya sulit.
6.
Biaya
perawatan yang cukup rendah karena termasuk tahan aus dan tahan kebakaran.\
b.
Kekurangan
Beton
1.
Beton
memiliki kuat tarik yang rendah sehingga mudah retak. Oleh karena itu perlu
diberi baja tulangan, atau tulangan kasa (meshes).
2.
Adukan
beton menyusut saat pengeringan sehingga perlu dibuat dilatasi (expansion
joint) untuk stuktur yang panjang untuk memberi tempat bagi susut pengerasan
dan pengembangan beton.
3.
Beton
keras (beton) mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu, sehingga
perlu dibuat dilatasi untuk mencegah terjadinya retak-retak akibat perubahan
suhu.
4.
Beton
sulit untuk kedap air secara sempurna, sehingga selalu dapat dimasuki air, dan
air yang membawa kandungan garam dapat merusak beton.
5.
Beton
bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dihitung dan di detail secara
seksama agar setelah dikomposisikan dengan baja tulangan menjadi bersifat
daktail, terutama pada struktur tahan gempa.
C.
Sifat-Sifat Beton
Untuk keperluan perancangan dan
pelaksanaan struktur beton, maka pengetahuan tentang sifat-sifat adukan beton
maupun sifat-sifat beton yang telah mengeras perlu diketahui. Sifat-sifat
tersebut antara lain.
Beton dapat mencapai kuat hancur
sampai 80 N/mm2 (12.000 lb/in2), atau lebih tergantung pada perbandingan
air-semen serta tingkat pemadatannya. Kuat hancur dari beton dipengaruhi oleh
sejumlah faktor, selain oleh perbandingan air-semen dan tingkat pemadatannya.
Faktor-faktor penting lainnya yaitu:
1. Jenis semen dan kualitasnya,
mempengaruhi kekuatan rata-rata dan kuat batas beton.
2. Jenis dan lekak-lekuk bidang
permukaan agregat. Kenyataan menunjukan bahwa penggunaan agregat akan
menghasilkan beton, dengan kuat desak maupun tarik yang lebih besar dari
penggunaan krikil halus dari sungai
3. Effisiensi dari perawatan (curing).
Kehilangan kekuatan sampai 40% dapat terjadi bila pengeringan diadakan sebelum
waktunya. Perawatan adalah hal yang sangat penting oada pekerjaan lapangan dan
pembuatan benda uji.
4. Suhu , Pada umumnya kecepatan
pengerasan beton bertambah dengan bertambahnya suhu. Pada titik beku kuat hancur
beton akan tetap rendah untuk waktu yang lama.
5. Umur. Pada keadaan yang normal
kekuatan beton akan bertambah dengan umurnya. Kecepatan bertambahnya kekuatan
tergantung pada jenis semen.
Durability (Keawetan)
Merupakan kemampuan beton untuk
bertahan seperti kondisi yang direncanakan tanpa terjadi korosi dalam jangka
waktu yang direncanakan. Dalam hal ini perlu pembatasan nialii faktor air semen
maksimum maupun pembatasan dosis semen minimum yang digunakan sesuai dengan
kondisi lingkungan.
KuatTarik
Kuat tarik beton berkisar
seper-delapan belas kuat desak pada waktu umurnya masih muda, dan berkisar
seper-sepuluh sesudahnya.biasanya tidak diperhitungkan di dalam perencanaan
beton. Kuat tarik merupakan bagian penting di dalam menahan retak-retak akibat perubahan
kadar air dan suhu. Pengujian kuat tarik diadakan untuk pembuatan beton
konstruksi jalan raya.
D. Bahan-Bahan
Penyusun Beton
1.
Semen
Semen adalah bahan organik yang mengeras pada percampuran
dengan air atau larutan garam. Jenis-jenis semen menurut BPS adalah :
a.
semen
abu atau semen portland adalah bubuk/bulk berwarna abu kebiru-biruan, dibentuk
dari bahan utama batu kapur/gamping berkadar kalsium tinggi yang diolah dalam
tanur yang bersuhu dan bertekanan tinggi. Semen ini biasa digunakan sebagai
perekat untuk memplester. Semen ini berdasarkan prosentase kandungan
penyusunannya terdiri dari 5 (lima) tipe, yaitu tipe I sd. V.
b.
emen
putih (gray cement) adalah semen yang lebih murni dari semen abu dan digunakan
untuk pekerjaan penyelesaian (finishing), seperti sebagai filler atau pengisi.
Semen jenis ini dibuat dari bahan utama kalsit (calcite) limestone murni.
c.
oil
well cement atau semen sumur minyak adalah semen khusus yang digunakan dalam
proses pengeboran minyak bumi atau gas alam, baik di darat maupun di lepas
pantai.
d.
mixed
& fly ash cement adalah campuran semen abu dengan Pozzolan buatan (fly
ash). Pozzolan buatan (fly ash) merupakan hasil sampingan dari pembakaran
batubara yang mengandung amorphous silika, aluminium oksida, besi oksida dan
oksida lainnya dalam berbagai variasi jumlah. Semen ini digunakan sebagai
campuran untuk membuat beton, sehingga menjadi lebih keras.
Semen yang biasa digunakan pada teknik sipil adalah semen
portland. Semen portland adalah bahan pengikat hidrolis berupa bubuk halus yang
dihasilkan dengan cara menghaluskan clinker (bahan ini terutama terdiri dari
silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolis) dengan batu gips sebagai
tambahan.
Pada umumnya semen portland yang digunakan adalah jenis
semen portland biasa (ordinary cement portland), yaitu semen portland yang
digunakan untuk tujuan umum. jenis semen portland dapat dibagi menurut beberapa
segi yaitu: Segi kebutuhan khusus dan Segi Penggunaan
a.
Segi
kebutuhan khusus
Sesuai kebutuhan penggunaannya, ada jenis semen yang memiliki tujuan penggunaan khusus seperti berikut.
Sesuai kebutuhan penggunaannya, ada jenis semen yang memiliki tujuan penggunaan khusus seperti berikut.
1.
Semen
portland yang cepat mengeras (rapid hardening portland cement),semen jenis ini
umumnya memiliki kadar C3S (tricalsium silika) atau C3A yang tinggi . dalam
standar semen ASTM, semen jenis ini termasuk semen Portland type III.
2.
semen Portland tahan sulfat sedang dan semen
Portland tahan sulfat,semen ini mempunyai bentuk yang lebih tahan sulfat
daripada semen biasa, karena kadar tricalsium aluminate rendah. Kadar maksimum
untuk semen tahan sulfat sedang adalah 8% dan untuk semen tahan sulfat adalah
maksimum 5%. Semen ini tahan terhadap sulfat, namun berarti tidak tahan
terhadap asam sulfat. Yang dimaksud sulfat disini adalah garam sulfat yang larut,
misalnya air laut, rawa, dan sebagainya, dimana kadar sulfatnya lebih dari 1%.
Semen ini termasuk semen portland type II A dan type V.
3.
semen
Portland Pozzolanic, semen ini merupakan campuran dari semen biasa (85-60 %)
dengan bubuk halus trass atau pozzolan (15-40%), atau benda-benda yang bersifat
pozzolan (seperti abu volkanis, abu bahan bakar, tanah liat bakar, atau fly
ash). Penggunaan adalah pada bangunan yang mendapat gangguan garam sulfat atau
panas rendah. Bila bahan yang dicampurkan terak dapur tinggi, disebut semen portland
terak dapur tinggi.
4.
emen
Portland panas rendah (Low Heat Cement), Semen jenis ini memiliki kadar C3S
maksimum 35% dan kadar C3A maksimum 7 %. Semen ini memiliki derajat pengersan
yang lambat dan panas yang dihasilkannya lebih rendah dibandingkan dengan semen
lain. Penggunaannya terutama terbatas pada turap penahan tanah gravitasi,
bendungan besar, dan konstruksi beton pejal di mana suhu massa beton naik.
Semen ini dalam standar ASTM termasuk semen portland type IV.
5.
masonry
Cement ,Semen jenis ini adalah semen portland yang dicampur dengan bubuk batu
atau batuan kapur sampai ± 50 %. Penggunaan semen jenis ini adalah untuk aduk
pasangan.
6.
Semen
Portland putih, Semen ini adalah semen portland dimana bahan-bahan dasarnya
mengandung senyawa besi yang rendah. Kadar Fe203 pada semen ini dibatasi
maksimum 0,5%, karena senyawa besi tersebut menimbulkan warna tua pada semen.
Semen ini mempunyai sifat yang biasa dengan semen portland biasa. Proses
pembuatan semen ini memerlukan ketelitian tinggi dan bahan dasarnya mahal oleh
karena itu, harga semen putih lenih mahal daripada semen biasa, kira-kira satu
sampai empat kali smen portland biasa.
2.
Agregat
Agregat adalah butiran mineral yang berfungsi sebagai bahan
pengisi dalam campuran mortar (aduk) dan beton. Agregat diperoleh dari sumber
daya alam yang telah mengalami pengecilan ukuran secara alamiah melalui proses
pelapukan dan aberasi yang berlangsung lama. Atau agregat dapat juga diperoleh
dengan memecah batuan induk yang lebih besar.
Agregat halus untuk beton adalah agregat berupa pasir alam
sebagai hasil disintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang
dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu dan mempunyai ukuran butir 5 mm.
Agregat kasar untuk beton adalah agregat berupa kerikil
kecil sebagai hasil disintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa batu pecah
yang diperoleh dari pemecahan batu, memiliki ukuran butir antara 5-40 mm. Besar
butir maksimum yang diizinkan tergantung pada maksud pemakaian.\
Pada teknologi beton, agregat terdiri dari banyak
klasifikasi, yaitu;
a. Ditinjau dari asalnya
1. Agregat alam
Pada umumnya agregat alam menggunakan bahan baku alam atau
hasil penghancurannya. Jenis batu alam yang baik untuk agregat adalah batuan
beku. Jenis batu endapan atau metamorph juga dapat dipakai meskipun kualitasnya
masih perlu dipilih. Batuan yang abaik untuk agregat adalah butiran-butiran
yang keras kompak, tidak pipih , kekal (volume tidak mudah berubah karena
perubahan cuaca), serta tidak terpengaruh keadaan sekelilingnya.
Agregat alam dapat dibedakan atas tiga kelompok.
1. kerikil dan pasir alam agregat jenis
ini merupakan hasil penghancuran oleh a;lam dari batuan induknya. Seringkali
agregat ini terdapat jauh dari asalnya karena terbawa arus air atau angin, dan
mengendap di suatu tempat. Pada umumnya pasir dan kerikil yang terbawa arus air
berbentuk bulat, sehingga dianggap baik untuk agregat aduk atau beton. Umumnya
pula jenis agregat ini bentuknya berubah-ubah dan tidak homogen sehingga dalam
penggunaannya untuk beton diperlukan perhatian khusus. Karena perubahan susunan
butir agregat sangat berpengaruh terhadap sifat beton yang dibuat agregat
tersebut.
2. Agregat batu pecah,Jenis batu yang
baik untuka agregat ini adalah batuan beku yang kompak. Di dalam pemakaiannya,
batu pecah membutuhkan air lebih banyak karena luas bidang permukaannya relatif
lebih luas. Dengan demikian untuk mendapatkan kelecakan aduk tertentu dan
faktor air semen sama, beton dengan agregat batu pecah akan menggunakan semen
sedikit lebih banyak daripada beton dengan menggunakan pasir atau kerikil alam.
kekuatan beton dengan batu pecah biasanya juga lebih tinggi , karena daya lekat
perekat pada permukaan batu pecah lebih baik daripada butiran yang halus.
Macam-macam batu yang cocok digunakan untuk agregat beton yaitu:
a. Batu kapur adalah hasil sedimentasi
yang komposisi utamanya adalah kalsium karbonat. Semakin keras dan padat jenis
batu kapur ini semakin cocok untuk pembuatan beton.\
b. Batu api. Meliputi granit, basalt, dolerit,
gabbros dan porphyries.Granit adalah keras ulet dan padat sehingga merupakan
agregat yang baik untuk beton. Basalt merupakan batu api yang menyerupai
granit, tetapi struktur butirnya lebih halus karena pendinginan yang cepat pada
proses pembentukannya. Dolerit mempunyai struktur butir kristal yang halus dan
mengandung felspar banyak. Beberapa dolerit bilamana digunakan untuk beton
dapat menyebabkan retak-retak dan menggangggu penggunaannya. Diketahi bahwa
batu ini mengembang dan menyusut sesuai dengan kelembaban.
c. Sandstone. Sandstone bervariasi
mulai dari yang paling keras dengan komposisi butiran yang berdekatan , sampai
yang lebih lunak dengan butiran yang lebih lepas, seperti batu tulis yang
berpasir, dimana adanya tanah liat menyebabkannya menjadi lunak, gampang pecah
dan daya serapnya tinggi.
d. Batu tulis biasanya agregat yang
tidak baik , lunak, lemah, dan berlapis dan daya serapnya tinggi. Selain itu
bentuknya yang pipih menyebabkan partikel-partikel ini sulit dipadatkan di
dalam beton.
e. Batuan metamorforsa, bervariasi
dalam karakternya. Marmer dan quartzites biasanya pejal, padat, serta cukup
ulet dan kuat.
3. agregat batu apung ,merupakan
agregat alamiah yang ringan dan umum digunakan. Penggunaan batu apung harus
bebas dari debu volkanik halus dan bahan-bahan yang bukan volkanik, misalnya
lempung. Batu ini memiliki sifat isolasi panas yang baik.
4. Agregat buatan
5. Agregat buatan adalah suatu agregat
yang dibuat dengan tujuan penggunaan khusus, atau karena kekurangan agregat
batuan-batuan alam. Berikut adalah contoh agregat buatan:
6. klinker dan breeze
7. pada umumnya klinker dianggap
sebagai bahan yang dibakar sempurna, massanya mengeras dan berinti, serta
terisi bahan yang sedikit terbakar. Adapun breeze merupakan bahan residu yang
kurang keras dan kurang baik pembakarannya, sehingga mengandung lebih banyak
bahan yang mudah terbakar. Kuantitas bahan yang mudah terbakar akan
mempengaruhi rambatan kelembapan. Makin banyak bahan yang mudah terbakar
semakin besar pula terjadinya rambatan kelembapan.Sumber utama jenis agregat
ini adalah stasiun pembangkit tenaga dimana ketel uap dipanasi dengan bahan bakar
padat. Agregat jenis ini banyak dipergunakan untuk memproduksi blok dan pelat
untuk partisi/penyekat dalam dan tembok interior lainnya.
8. agregat yang berasal dari
bahan-bahan yang mengembang
tanah liat dan batu tulis yang terjadi secara alamiah dapat dipergunakan unytuk membuat bahan berpori yang ringan, dengan permukaan yang berbentuk sel-sel dengan pemanasan sampai suhu sekitar 1000 0C – 2000 0C.
tanah liat dan batu tulis yang terjadi secara alamiah dapat dipergunakan unytuk membuat bahan berpori yang ringan, dengan permukaan yang berbentuk sel-sel dengan pemanasan sampai suhu sekitar 1000 0C – 2000 0C.
9. cooke breeze
10. cooke breeze adalah hasil tambahan
dari sisa bakaran bahan bakar batu arang yang kurang sempurna pembakarannya,
biasanya terdapat pada dapur-dapur rumah tangga di negara-negara Eropa dan
Amerika. Cooke breeze mengandung banyak sekali arang, kadang mencapai 75 %.
Kandungan arang yang banyak tadi akan menghambat pengerasan semen sehingga
dalam pemakaiannya perlu mendapat perhatian.
11. Hydite
Agregat jenis ini dibuat dari tanah liat (shale) yang dibakar dalam dapur berputar. Tanah liat kering atau yang bergumpal – gumpal atau pecahan shale dibakar mendadak dalam dapur berputar pada suhu tinggi. Dengan demikian bahan akan membengkak. Hasilnya merupakan bongkahan-bongkahan tanah yang mengembang serta hampir leleh, kemudian dihancurkan dan diayak hingga mencapai susunan butir yang diperlukan.
Agregat jenis ini dibuat dari tanah liat (shale) yang dibakar dalam dapur berputar. Tanah liat kering atau yang bergumpal – gumpal atau pecahan shale dibakar mendadak dalam dapur berputar pada suhu tinggi. Dengan demikian bahan akan membengkak. Hasilnya merupakan bongkahan-bongkahan tanah yang mengembang serta hampir leleh, kemudian dihancurkan dan diayak hingga mencapai susunan butir yang diperlukan.
12. Lelite
lelite dibuat dari batu metamorpora atau shale yang mengandung senyawa-senyawa karbon. Bahan dasarnya dipecah kecil-kecil, kemudian dilakukan pembakaran dalam dapur vertikal pada suhu yang tinggi (± 1550oC). Pada suhu ini butiran-butiran akan mengembang dan terkumpul di bawah (dasar) dapur berupa lempeng-lempeng yang berlubang seperti rumah lebah. Dari lempeng-lempeng ini dibuat bahan tambah dengan memecah dan mengayaknya untuk mendapatkan butiran-butiran dengan ukuran tertentu. Lempeng itu sendiri dapat dipergunakan untuk unsur bangunan guna menghambat suara dan panas.
lelite dibuat dari batu metamorpora atau shale yang mengandung senyawa-senyawa karbon. Bahan dasarnya dipecah kecil-kecil, kemudian dilakukan pembakaran dalam dapur vertikal pada suhu yang tinggi (± 1550oC). Pada suhu ini butiran-butiran akan mengembang dan terkumpul di bawah (dasar) dapur berupa lempeng-lempeng yang berlubang seperti rumah lebah. Dari lempeng-lempeng ini dibuat bahan tambah dengan memecah dan mengayaknya untuk mendapatkan butiran-butiran dengan ukuran tertentu. Lempeng itu sendiri dapat dipergunakan untuk unsur bangunan guna menghambat suara dan panas.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Beton adalah campuran antara semen,
agregat halus, agregat kasar, dan air, dengan atau tanpa bahan campuran
tambahan yang membentuk massa padat. Bahan penyusun beton tersebut pun memiliki
banyak banyak klasifikasi yang berdasarkan kegunaan, bentuk, dan ukuran yang
mana telah diuraikan pada bagian pembahasan.
Beton sebagai bahan bangunan juga
telah lama dikenal di Indonesia. Disamping mempunyai kelebihan dalam mendukung
tegangan tekan, beton mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan, dapat digunakan
pada berbagai struktur teknik sipil serta mudah di rawat. Dalam pembuatan beton
pun dapat dimanfaatkan bahan-bahan lokal oleh sebab itu beton sangat populer
dipakai.
Bahan perekat hidrolis adalah bahan
yang apabila dicampur dengan air maka akan membentuk pasta kemudian mengeras dan setelah mengeras tidak
larut kembali dalam air.
Perekat hidolis yang biasa digunakan
terdiri dari :
1. Gips hemihidrat
Gips berfungsi dalam proses pengerasan,memperlambat
pengerasan.
2. Kapur
kapur banyak digunakan dalam bidang pertanian,dan berbagai
bidang industry seperti industri kimia pharmasi, industri baja, dll.Dalam
industry sangat
dipengaruhi oleh : mutu dan kemurnian batu kapur sebagai bahan baku,
kesempurnaan pembakaran dan pemadaman kapur tohor.
3. Puzzolan
Pozollan adalah suatu jenis bahan galian yang berasal dari
pelapukan mineral deposit vulkanik.
puzolan mengandung unsur yang tidak mempunyai sifat penyemenan, tetapi
dalam bentuk serbuk halus dan bila dicampur dengan air membentuk senyawa yang mempunyai
sifat semen, yaitu mengalami proses pengerasan dan setelah keras tidak larut
dalam air.
4. Semen
Semen merupakan salah satu komponen bahan perekat, untuk
semen portlan sendiri terbagi menjadi 5 tipe yaitu semen Portland jenis umum,tahan terhadap panas hidrasi
sedang, semen Portland kekuatan awal tinggi, semen Portland dengan panas hidrasi rendah,dan semen portland tahan sulfat.
Ditinjau dari jenisnya, bahan perekat terdapat dua jenis,
yaitu bahan perekat (lem) yang berbasis air; dan bahan perekat (lem) yang
berbasis hardener.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar