Senin, 13 Oktober 2014



DOSEN                 : Samsong B.Supeno,ST.,M.Si
MATA KULIAH     : Dasar Tehnik

MAKALAH TENTANG BETON DAN BAHAN PEREKAT


DISUSUN OLEH :
HENDRA RURU
PO.71.3.221.13.1.020
Tingkat II.A



KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN AJARAN 2014/2015
PRODI DIII

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya-lah sehingga kita dapat menyelesaikan Makalah tentang Pembuatan Beton ini dengan baik. Walaupun sederhana keadaannya, namun diharapkan agar  dapat memberi mamfaat bagi kita semua.    Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang terjadi baik dalam bentuk penulisan kata-kata maupun kalimat yang kurang baku, maka dari itu saran dan kritik sangat kami harapkan demi kesempurnaannya makalah ini. Karena kami manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.
            Demikianlah makalah yang kami yang susun ini semoga bermamfaat bagi kita semua, atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.










Makassar,08 Oktober 2014
Penyusun


Hendra Ruru
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Bahan Perekat merupakan komponen penting dalam konstruksi bangunan, dan berpengaruh terhadap jalannya suatu pengerjaan kontruksi. Bahan dan materialnyapun berbeda-beda. Terdapat agregat kasar dengan bahan perekat agregat.
Perekat digunakan untuk menyatukan bahan/ material-material yang ada dan ditujukan untuk memperkuat bangunan, sehingga bangunan menjadi lebih kokoh, kuat.
Bahan perekat memiliki bermacam-macam jenis. Seperti bahan perekat hidrolis yang dicampur dengan air, bahan perekat kayu seperti lignin, dan bahan perekat mortar dengan beton. Dalam perkembangan peradaban manusia khususnya dalam hal bangunan, tentu kerap mendengar cerita tentang kemampuan nenek moyang merekatkan batu-batu raksasa hanya dengan mengandalkan zat putih telur, ketan atau lainnya. Alhasil, berdirilah bangunan fenomenal, seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan di Indonesia ataupun jembatan di Cina yang menurut legenda menggunakan ketan sebagai perekat. Ataupun menggunakan aspal alam sebagaimana peradaban di Mahenjo Daro dan Harappa di India ataupun bangunan kuno yang dijumpai di Pulau Buton.
Peristiwa tadi menunjukkan dikenalnya fungsi beton sejak zaman dahulu. Sebelum mencapai bentuk seperti sekarang, perekat dan penguat bangunan ini awalnya merupakan hasil percampuran batu kapur dan abu vulkanis. Pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu lantas dinamai pozzuolana. Menyusul runtuhnya Kerajaan Romawi, sekitar abad pertengahan (tahun 1100-1500 M) resep ramuan pozzuolana sempat menghilang dari peredaran.
Material itu sendiri adalah benda yang dengan sifat-sifatnya yang khas dimanfaatkan dalam bangunan, mesin, peralatan atau produk. Dan Sains material yaitu suatu cabang ilmu yan meliputi pengembangan dan penerapan  pengetahuan yang mengkaitkan komposisi, struktur dan pemrosesan material dengan sifat-sifat kegunaannya.semen termasuk material yang sangat akrab dalam kehidupan kita sehari-hari.

B.     TUJUAN
1.      Untuk Mengetahui pengertian dari agregat dan bahan perekat
2.      Untuk memahami apa itu Beton dan apa kekurangan serta kelebihan dari beton
3.      Untuk mengetahui sifat-sifat dari beton
4.      Untuk memahami bahan-bahan penyusun beton



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengetian dari Agregat dan Bahan Perekat
Agregat adalah butiran mineral yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran mortar (aduk) dan beton. Agregat diperoleh dari sumber daya alam yang telah mengalami pengecilan ukuran secara alamiah melalui proses pelapukan dan aberasi yang berlangsung lama. Atau agregat dapat juga diperoleh dengan memecah batuan induk yang lebih besar.
Agregat halus untuk beton adalah agregat berupa pasir alam sebagai hasil disintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu dan mempunyai ukuran butir 5 mm.
Agregat kasar untuk beton adalah agregat berupa kerikil kecil sebagai hasil disintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu, memiliki ukuran butir antara 5-40 mm. \

B.     Kelebihan dan Kekurangan Beton
a.       Kelebihan Beton
1.      Harganya relatif murah karena menggunakan bahan lokal.
2.      Mempunyai kekuatan tekan yang tinggi, serta mempunyai sifat tahan terhadap pengkaratan atau pembusukan oleh kondisi lingkungan.
3.      Adukan beton mudah diangkut maupun dicetak dalam bentuk dan ukuran sesuai keinginan.
4.      Kuat tekan beton jika dikombinasikan dengan baja akan mampu memikul beban yang berat.
5.      Adukan beton dapat disemprotkan di permukaan beton lama yang retak maupun diisikan ke dalam retakan beton dalam proses perbaikan. Selain itu dapat pula dipompakan ke tempat yang posisinya sulit.
6.      Biaya perawatan yang cukup rendah karena termasuk tahan aus dan tahan kebakaran.\
b.      Kekurangan Beton
1.      Beton memiliki kuat tarik yang rendah sehingga mudah retak. Oleh karena itu perlu diberi baja tulangan, atau tulangan kasa (meshes).
2.      Adukan beton menyusut saat pengeringan sehingga perlu dibuat dilatasi (expansion joint) untuk stuktur yang panjang untuk memberi tempat bagi susut pengerasan dan pengembangan beton.
3.      Beton keras (beton) mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu, sehingga perlu dibuat dilatasi untuk mencegah terjadinya retak-retak akibat perubahan suhu.
4.      Beton sulit untuk kedap air secara sempurna, sehingga selalu dapat dimasuki air, dan air yang membawa kandungan garam dapat merusak beton.
5.      Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dihitung dan di detail secara seksama agar setelah dikomposisikan dengan baja tulangan menjadi bersifat daktail, terutama pada struktur tahan gempa.

C.    Sifat-Sifat Beton
Untuk keperluan perancangan dan pelaksanaan struktur beton, maka pengetahuan tentang sifat-sifat adukan beton maupun sifat-sifat beton yang telah mengeras perlu diketahui. Sifat-sifat tersebut antara lain.
Beton dapat mencapai kuat hancur sampai 80 N/mm2 (12.000 lb/in2), atau lebih tergantung pada perbandingan air-semen serta tingkat pemadatannya. Kuat hancur dari beton dipengaruhi oleh sejumlah faktor, selain oleh perbandingan air-semen dan tingkat pemadatannya. Faktor-faktor penting lainnya yaitu:
1.      Jenis semen dan kualitasnya, mempengaruhi kekuatan rata-rata dan kuat batas beton.
2.      Jenis dan lekak-lekuk bidang permukaan agregat. Kenyataan menunjukan bahwa penggunaan agregat akan menghasilkan beton, dengan kuat desak maupun tarik yang lebih besar dari penggunaan krikil halus dari sungai
3.      Effisiensi dari perawatan (curing). Kehilangan kekuatan sampai 40% dapat terjadi bila pengeringan diadakan sebelum waktunya. Perawatan adalah hal yang sangat penting oada pekerjaan lapangan dan pembuatan benda uji.
4.      Suhu , Pada umumnya kecepatan pengerasan beton bertambah dengan bertambahnya suhu. Pada titik beku kuat hancur beton akan tetap rendah untuk waktu yang lama.
5.      Umur. Pada keadaan yang normal kekuatan beton akan bertambah dengan umurnya. Kecepatan bertambahnya kekuatan tergantung pada jenis semen.

Durability  (Keawetan)
Merupakan kemampuan beton untuk bertahan seperti kondisi yang direncanakan tanpa terjadi korosi dalam jangka waktu yang direncanakan. Dalam hal ini perlu pembatasan nialii faktor air semen maksimum maupun pembatasan dosis semen minimum yang digunakan sesuai dengan kondisi lingkungan.
KuatTarik
Kuat tarik beton berkisar seper-delapan belas kuat desak pada waktu umurnya masih muda, dan berkisar seper-sepuluh sesudahnya.biasanya tidak diperhitungkan di dalam perencanaan beton. Kuat tarik merupakan bagian penting di dalam menahan retak-retak akibat perubahan kadar air dan suhu. Pengujian kuat tarik diadakan untuk pembuatan beton konstruksi jalan raya.
D.     Bahan-Bahan Penyusun Beton
1.      Semen
Semen adalah bahan organik yang mengeras pada percampuran dengan air atau larutan garam. Jenis-jenis semen menurut BPS adalah :
a.       semen abu atau semen portland adalah bubuk/bulk berwarna abu kebiru-biruan, dibentuk dari bahan utama batu kapur/gamping berkadar kalsium tinggi yang diolah dalam tanur yang bersuhu dan bertekanan tinggi. Semen ini biasa digunakan sebagai perekat untuk memplester. Semen ini berdasarkan prosentase kandungan penyusunannya terdiri dari 5 (lima) tipe, yaitu tipe I sd. V.
b.      emen putih (gray cement) adalah semen yang lebih murni dari semen abu dan digunakan untuk pekerjaan penyelesaian (finishing), seperti sebagai filler atau pengisi. Semen jenis ini dibuat dari bahan utama kalsit (calcite) limestone murni.
c.       oil well cement atau semen sumur minyak adalah semen khusus yang digunakan dalam proses pengeboran minyak bumi atau gas alam, baik di darat maupun di lepas pantai.
d.      mixed & fly ash cement adalah campuran semen abu dengan Pozzolan buatan (fly ash). Pozzolan buatan (fly ash) merupakan hasil sampingan dari pembakaran batubara yang mengandung amorphous silika, aluminium oksida, besi oksida dan oksida lainnya dalam berbagai variasi jumlah. Semen ini digunakan sebagai campuran untuk membuat beton, sehingga menjadi lebih keras.
Semen yang biasa digunakan pada teknik sipil adalah semen portland. Semen portland adalah bahan pengikat hidrolis berupa bubuk halus yang dihasilkan dengan cara menghaluskan clinker (bahan ini terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolis) dengan batu gips sebagai tambahan.
Pada umumnya semen portland yang digunakan adalah jenis semen portland biasa (ordinary cement portland), yaitu semen portland yang digunakan untuk tujuan umum. jenis semen portland dapat dibagi menurut beberapa segi yaitu: Segi kebutuhan khusus dan Segi Penggunaan
a.       Segi kebutuhan khusus
  Sesuai kebutuhan penggunaannya, ada jenis semen yang memiliki tujuan penggunaan khusus seperti berikut.
1.      Semen portland yang cepat mengeras (rapid hardening portland cement),semen jenis ini umumnya memiliki kadar C3S (tricalsium silika) atau C3A yang tinggi . dalam standar semen ASTM, semen jenis ini termasuk semen Portland type III.
2.       semen Portland tahan sulfat sedang dan semen Portland tahan sulfat,semen ini mempunyai bentuk yang lebih tahan sulfat daripada semen biasa, karena kadar tricalsium aluminate rendah. Kadar maksimum untuk semen tahan sulfat sedang adalah 8% dan untuk semen tahan sulfat adalah maksimum 5%. Semen ini tahan terhadap sulfat, namun berarti tidak tahan terhadap asam sulfat. Yang dimaksud sulfat disini adalah garam sulfat yang larut, misalnya air laut, rawa, dan sebagainya, dimana kadar sulfatnya lebih dari 1%. Semen ini termasuk semen portland type II A dan type V.
3.      semen Portland Pozzolanic, semen ini merupakan campuran dari semen biasa (85-60 %) dengan bubuk halus trass atau pozzolan (15-40%), atau benda-benda yang bersifat pozzolan (seperti abu volkanis, abu bahan bakar, tanah liat bakar, atau fly ash). Penggunaan adalah pada bangunan yang mendapat gangguan garam sulfat atau panas rendah. Bila bahan yang dicampurkan terak dapur tinggi, disebut semen portland terak dapur tinggi.
4.      emen Portland panas rendah (Low Heat Cement), Semen jenis ini memiliki kadar C3S maksimum 35% dan kadar C3A maksimum 7 %. Semen ini memiliki derajat pengersan yang lambat dan panas yang dihasilkannya lebih rendah dibandingkan dengan semen lain. Penggunaannya terutama terbatas pada turap penahan tanah gravitasi, bendungan besar, dan konstruksi beton pejal di mana suhu massa beton naik. Semen ini dalam standar ASTM termasuk semen portland type IV.
5.      masonry Cement ,Semen jenis ini adalah semen portland yang dicampur dengan bubuk batu atau batuan kapur sampai ± 50 %. Penggunaan semen jenis ini adalah untuk aduk pasangan.
6.      Semen Portland putih, Semen ini adalah semen portland dimana bahan-bahan dasarnya mengandung senyawa besi yang rendah. Kadar Fe203 pada semen ini dibatasi maksimum 0,5%, karena senyawa besi tersebut menimbulkan warna tua pada semen. Semen ini mempunyai sifat yang biasa dengan semen portland biasa. Proses pembuatan semen ini memerlukan ketelitian tinggi dan bahan dasarnya mahal oleh karena itu, harga semen putih lenih mahal daripada semen biasa, kira-kira satu sampai empat kali smen portland biasa.
2.      Agregat
Agregat adalah butiran mineral yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran mortar (aduk) dan beton. Agregat diperoleh dari sumber daya alam yang telah mengalami pengecilan ukuran secara alamiah melalui proses pelapukan dan aberasi yang berlangsung lama. Atau agregat dapat juga diperoleh dengan memecah batuan induk yang lebih besar.
Agregat halus untuk beton adalah agregat berupa pasir alam sebagai hasil disintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu dan mempunyai ukuran butir 5 mm.
Agregat kasar untuk beton adalah agregat berupa kerikil kecil sebagai hasil disintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu, memiliki ukuran butir antara 5-40 mm. Besar butir maksimum yang diizinkan tergantung pada maksud pemakaian.\
Pada teknologi beton, agregat terdiri dari banyak klasifikasi, yaitu;
a.       Ditinjau dari asalnya
1.      Agregat alam
Pada umumnya agregat alam menggunakan bahan baku alam atau hasil penghancurannya. Jenis batu alam yang baik untuk agregat adalah batuan beku. Jenis batu endapan atau metamorph juga dapat dipakai meskipun kualitasnya masih perlu dipilih. Batuan yang abaik untuk agregat adalah butiran-butiran yang keras kompak, tidak pipih , kekal (volume tidak mudah berubah karena perubahan cuaca), serta tidak terpengaruh keadaan sekelilingnya.
Agregat alam dapat dibedakan atas tiga kelompok.
1.      kerikil dan pasir alam agregat jenis ini merupakan hasil penghancuran oleh a;lam dari batuan induknya. Seringkali agregat ini terdapat jauh dari asalnya karena terbawa arus air atau angin, dan mengendap di suatu tempat. Pada umumnya pasir dan kerikil yang terbawa arus air berbentuk bulat, sehingga dianggap baik untuk agregat aduk atau beton. Umumnya pula jenis agregat ini bentuknya berubah-ubah dan tidak homogen sehingga dalam penggunaannya untuk beton diperlukan perhatian khusus. Karena perubahan susunan butir agregat sangat berpengaruh terhadap sifat beton yang dibuat agregat tersebut.
2.      Agregat batu pecah,Jenis batu yang baik untuka agregat ini adalah batuan beku yang kompak. Di dalam pemakaiannya, batu pecah membutuhkan air lebih banyak karena luas bidang permukaannya relatif lebih luas. Dengan demikian untuk mendapatkan kelecakan aduk tertentu dan faktor air semen sama, beton dengan agregat batu pecah akan menggunakan semen sedikit lebih banyak daripada beton dengan menggunakan pasir atau kerikil alam. kekuatan beton dengan batu pecah biasanya juga lebih tinggi , karena daya lekat perekat pada permukaan batu pecah lebih baik daripada butiran yang halus. Macam-macam batu yang cocok digunakan untuk agregat beton yaitu:
a.       Batu kapur adalah hasil sedimentasi yang komposisi utamanya adalah kalsium karbonat. Semakin keras dan padat jenis batu kapur ini semakin cocok untuk pembuatan beton.\
b.      Batu api. Meliputi granit, basalt, dolerit, gabbros dan porphyries.Granit adalah keras ulet dan padat sehingga merupakan agregat yang baik untuk beton. Basalt merupakan batu api yang menyerupai granit, tetapi struktur butirnya lebih halus karena pendinginan yang cepat pada proses pembentukannya. Dolerit mempunyai struktur butir kristal yang halus dan mengandung felspar banyak. Beberapa dolerit bilamana digunakan untuk beton dapat menyebabkan retak-retak dan menggangggu penggunaannya. Diketahi bahwa batu ini mengembang dan menyusut sesuai dengan kelembaban.
c.       Sandstone. Sandstone bervariasi mulai dari yang paling keras dengan komposisi butiran yang berdekatan , sampai yang lebih lunak dengan butiran yang lebih lepas, seperti batu tulis yang berpasir, dimana adanya tanah liat menyebabkannya menjadi lunak, gampang pecah dan daya serapnya tinggi.
d.      Batu tulis biasanya agregat yang tidak baik , lunak, lemah, dan berlapis dan daya serapnya tinggi. Selain itu bentuknya yang pipih menyebabkan partikel-partikel ini sulit dipadatkan di dalam beton.
e.       Batuan metamorforsa, bervariasi dalam karakternya. Marmer dan quartzites biasanya pejal, padat, serta cukup ulet dan kuat.

3.      agregat batu apung ,merupakan agregat alamiah yang ringan dan umum digunakan. Penggunaan batu apung harus bebas dari debu volkanik halus dan bahan-bahan yang bukan volkanik, misalnya lempung. Batu ini memiliki sifat isolasi panas yang baik.
4.      Agregat buatan
5.      Agregat buatan adalah suatu agregat yang dibuat dengan tujuan penggunaan khusus, atau karena kekurangan agregat batuan-batuan alam. Berikut adalah contoh agregat buatan:
6.      klinker dan breeze
7.      pada umumnya klinker dianggap sebagai bahan yang dibakar sempurna, massanya mengeras dan berinti, serta terisi bahan yang sedikit terbakar. Adapun breeze merupakan bahan residu yang kurang keras dan kurang baik pembakarannya, sehingga mengandung lebih banyak bahan yang mudah terbakar. Kuantitas bahan yang mudah terbakar akan mempengaruhi rambatan kelembapan. Makin banyak bahan yang mudah terbakar semakin besar pula terjadinya rambatan kelembapan.Sumber utama jenis agregat ini adalah stasiun pembangkit tenaga dimana ketel uap dipanasi dengan bahan bakar padat. Agregat jenis ini banyak dipergunakan untuk memproduksi blok dan pelat untuk partisi/penyekat dalam dan tembok interior lainnya.
8.      agregat yang berasal dari bahan-bahan yang mengembang
tanah liat dan batu tulis yang terjadi secara alamiah dapat dipergunakan unytuk membuat bahan berpori yang ringan, dengan permukaan yang berbentuk sel-sel dengan pemanasan sampai suhu sekitar 1000 0C – 2000 0C.
9.      cooke breeze
10.  cooke breeze adalah hasil tambahan dari sisa bakaran bahan bakar batu arang yang kurang sempurna pembakarannya, biasanya terdapat pada dapur-dapur rumah tangga di negara-negara Eropa dan Amerika. Cooke breeze mengandung banyak sekali arang, kadang mencapai 75 %. Kandungan arang yang banyak tadi akan menghambat pengerasan semen sehingga dalam pemakaiannya perlu mendapat perhatian.
11.  Hydite
Agregat jenis ini dibuat dari tanah liat (shale) yang dibakar dalam dapur berputar. Tanah liat kering atau yang bergumpal – gumpal atau pecahan shale dibakar mendadak dalam dapur berputar pada suhu tinggi. Dengan demikian bahan akan membengkak. Hasilnya merupakan bongkahan-bongkahan tanah yang mengembang serta hampir leleh, kemudian dihancurkan dan diayak hingga mencapai susunan butir yang diperlukan.
12.  Lelite
lelite dibuat dari batu metamorpora atau shale yang mengandung senyawa-senyawa karbon. Bahan dasarnya dipecah kecil-kecil, kemudian dilakukan pembakaran dalam dapur vertikal pada suhu yang tinggi (± 1550oC). Pada suhu ini butiran-butiran akan mengembang dan terkumpul di bawah (dasar) dapur berupa lempeng-lempeng yang berlubang seperti rumah lebah. Dari lempeng-lempeng ini dibuat bahan tambah dengan memecah dan mengayaknya untuk mendapatkan butiran-butiran dengan ukuran tertentu. Lempeng itu sendiri dapat dipergunakan untuk unsur bangunan guna menghambat suara dan panas.








BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Beton adalah campuran antara semen, agregat halus, agregat kasar, dan air, dengan atau tanpa bahan campuran tambahan yang membentuk massa padat. Bahan penyusun beton tersebut pun memiliki banyak banyak klasifikasi yang berdasarkan kegunaan, bentuk, dan ukuran yang mana telah diuraikan pada bagian pembahasan.
Beton sebagai bahan bangunan juga telah lama dikenal di Indonesia. Disamping mempunyai kelebihan dalam mendukung tegangan tekan, beton mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan, dapat digunakan pada berbagai struktur teknik sipil serta mudah di rawat. Dalam pembuatan beton pun dapat dimanfaatkan bahan-bahan lokal oleh sebab itu beton sangat populer dipakai.
Bahan perekat hidrolis adalah bahan yang apabila dicampur dengan air maka akan membentuk pasta kemudian mengeras dan setelah mengeras tidak larut kembali dalam air.
Perekat hidolis yang biasa digunakan terdiri dari :
1.      Gips hemihidrat
Gips berfungsi dalam proses pengerasan,memperlambat pengerasan.
2.      Kapur
kapur banyak digunakan dalam bidang pertanian,dan berbagai bidang industry seperti industri kimia pharmasi, industri baja, dll.Dalam industry sangat dipengaruhi oleh : mutu dan kemurnian batu kapur sebagai bahan baku, kesempurnaan pembakaran dan pemadaman kapur tohor.
3.       Puzzolan
Pozollan adalah suatu jenis bahan galian yang berasal dari pelapukan mineral deposit vulkanik.  puzolan mengandung unsur yang tidak mempunyai sifat penyemenan, tetapi dalam bentuk serbuk halus dan bila dicampur dengan air membentuk senyawa yang mempunyai sifat semen, yaitu mengalami proses pengerasan dan setelah keras tidak larut dalam air.
4.      Semen
Semen merupakan salah satu komponen bahan perekat, untuk semen portlan sendiri terbagi menjadi 5 tipe yaitu semen Portland jenis umum,tahan terhadap panas hidrasi sedang, semen Portland kekuatan awal tinggi, semen Portland dengan panas hidrasi rendah,dan semen portland tahan sulfat.
Ditinjau dari jenisnya, bahan perekat terdapat dua jenis, yaitu bahan perekat (lem) yang berbasis air; dan bahan perekat (lem) yang berbasis hardener.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar